Aku tidak bermaksud untuk mengjugje seorang Mario Stevano Aditya Haling, aku hanya ingin mencurahkan hatiku sebagai seorang 'fans'.
Kakak jahat.
Kakak egois.
Kakak nggak bisa ngertiin perasaan 'fans'nya sendiri.
Kakak tau, aku rela tidak tidur, menatap lebih lama dari biasanya di gadget, menunggu balasan mention dari kakak, tapi,
Kakak balas mention dari rise lainnya. aku mention kakak sejak kakak mulai ada di twitter. aku sudah berkali kali mention ke kakak tapi nggak kakak bales.
Apa mention ku tenggelan begitu dalam sedalam-dalamnya kak? aku iri, kak. IRI !
Tolong kak, aku hanya ingin kakak bales mentionku, walaupun cuman kata 'hmm' atau 'iya' . Tolong kak, tolong.
Senin, 19 Oktober 2015
Senin, 06 Juli 2015
Happy Anniversary 1st Years!
Happy Anniversary 1st Years sayang :*
Hahahaha ngarep. :|
Jadi tuh ceritanya, tanggal 5 Juli kemaren, gue setahun sama mantan. Dan dengan gamblangnya dia nggak inget! Gimana nggak sakit coba. Padahal udah pake kode kode itu, sialan.
Ehm, gue sih cuman mua say thanks aja, thanks buat 5 bulan yang terindah itu. Thanks buat perhatiannya, senyumnya yang sering buat gue senyum senyum sendiri, thanks juga buat semua sakit yang udah lo kasih ke gue.
Semoga elo long last sama pacar setelah gue, gue disini, juga mau bilang kalo gue masih sayang sama lo. Walaupun gue sama lo udah nggak ada hubungan apa apa lagi, lo tetep yang terindah buat gue. ily :* <3 ({})
Sabtu, 02 Mei 2015
Destined Couple -Chapter 5-
“Loe nemu sesuatu?” tanya Alvin yang mulai bosan dengan buku-buku di depannya. Tak ada yang menjawab, Zeze, Sion dan Rio masih berkutat serius dengan bacaannya.
“Isssh! Hello! Gue mulai bosan!” Alvin berdiri dan berjalan-jalan keliling ruangan.
“Ngomong-ngomong soal Ify.” kata Alvin memulai cerita. Mendengar nama Ify, Rio dan lainnya menoleh ke arah Alvin.
“Ada apa? Awas kalau loe bercanda, gue lempar sampai Kutub Utara.” Kata Rio.
“Bau darah Ify nggak jauh beda sama darah kita, apalagi darah loe Yo.” Kata Alvin.
“Saat pertama gue ketemu dia, gue hampir berpikir dia vampire. Rasanya gue kenal bau darah itu.”
Zeze, Sion dan Rio mendengarkan dengan seksama, “Siapa?”
Alvin menggaruk kepalanya, “Gue lupa. Udah lama banget.”
“Huft!” Rio dan lainnya memasang tampang kecewa.
“Nanti gue kabari kalau gue inget. Gue pulang dulu ya. Ada pertemuan Vampire Human malam ini. Daa Ze.” Alvin mencium kening Zeze dan pergi.
***
Alvin masuk ke rumahnya disambut oleh beberapa Vampire Human yang sudah datang berkumpul. Setelah menyapa beberapa orang, Alvin pergi ke kamarnya.
Ia mengambil beberapa buku yang diperlukan untuk pertemuan malam ini. Saat mengambil sebuah buku, Alvin menemukan sebuah botol kecil tersimpan di balik tumpukan buku tersebut. Alvin mengambil botol tersebut. Isinya beberapa mililiter cairan merah. Ia menduga itu darah. Saat Alvin hendak membukanya, seseorang memanggil Alvin untuk segera memulai pertemuan. Alvin meletakkan botol itu kembali dan keluar dari kamarnya.
Alvin memimpin pertemuan membahas berbagai hal yang menurutnya sangat membosankan. Tiba-tiba ia teringat botol sebelumnya dan memikirkannya.
“Darah siapa ya itu?”
“Brak!” Alvin berdiri sambil menggebrak meja, ia tahu sesuatu. Ia ingat sesuatu.
“A-ada apa Vin?” tanya Olivia yang duduk di sebelah Alvin.
“Gue harus pergi. Lanjutkan tanpa gue!” Alvin pergi meninggalkan ruang pertemuan, berlari ke kamarnya dan mengambil botol tadi. Ia membukanya dan mencium darah itu.
“Bener dugaan gue. Nggak salah lagi.” Ia mengantongi darah itu dan meninggalkan rumahnya menuju ke rumah Sivia.
Tiba-tiba di tengah perjalanan, sesuatu mendorongnya hingga ia terhempas ke tanah. Alvin meringis kesakitan dan duduk membersihkan tangannya. Seseorang berdiri di depannya, matanya tampak merah menyala.
“Loe Rio?” tanya Alvin menebak. Walau penglihatannya tajam, namun seseorang di depannya tengah membelakangi bulan hingga hanya siluet nya yang terlihat jelas.
Tanpa sempat berdiri, dalam sekejap orang itu duduk di depan Alvin dan menggigit lehernya. Alvin menjerit kesakitan, ia tak bisa bergerak.
“I-ini bukan Rio.” Alvin menyadari bau yang berbeda. Bau yang belum pernah ia tahu sebelumnya. Gigitannya benar-benar kuat. Alvin mulai kehilangan tenaga dan kesadarannya.
Sivia pulang setelah mengobrol dengan Gabriel tentang Killer Syndrome. Ia senang bisa mempelajari sesuatu yang baru dan bisa berteman baik dengan manusia. Senyum tak lepas dari bibirnya, sampai tiba-tiba ia mencium bau darah Alvin tak jauh darinya.
“Alvin?” Hal yang aneh dia mencium bau darah Alvin.
“Apa ada Kanibal lain yang sedang meminum darahnya?” Sivia bertanya-tanya. Ia mencari keberadaan Alvin.
“Oh my! Alvin!” Sivia turun dan mendekati Alvin yang tak sadarkan diri.
“Vin! Alvin!” Sivia mencoba membangunkan Alvin, tapi ia tak kunjung bangun. Sivia mengangkat tubuh Alvin dan membawanya ke rumahnya.
“Ze!” Sivia memanggil Zeze begitu ia sampai di teras rumahnya. Zeze yang melihat Alvin tak sadarkan diri langsung menghampiri dan menidurkan Alvin di sofa.
“Alvin! Alvin kenapa?” Zeze mencoba membangunkan Alvin.
“Dia kenapa Vi?” tanyanya ke Sivia.
“Gue juga nggak tau, gue nemuin Alvin di jalan kayak gitu.”
“Gue rasa dia digigit seseorang. Lihat lehernya.” Kata Rio. Di leher Alvin ada dua luka gigitan vampire.
Zeze mengiris pergelangan tangannya dan meneteskan darahnya ke luka Alvin. Tapi darah itu hanya menguap tanpa menyembuhkan luka Alvin. Zeze meneteskan air matanya dan mengiris kembali pergelangan tangannya. Kali ini ia meneteskan darahnya ke mulut Alvin. Beberapa tetes sudah masuk ke mulut Alvin, namun sedikitpun Alvin tak memberi reaksi. Tangis Zeze semakin menjadi. Amarah Rio juga sudah memuncak.
“Siapa yang berani nglakuin ini ke Alvin?” mata Rio samar-samar memerah. Sivia yang melihat itu segera mendorong Rio ke dinding dan menahannya di sana.
“Kendalikan amarah loe!” bentaknya.
“Sion! Panggil tetua kesini!” suruh Sivia. Sion segera pergi.
“Loe tenang disini. Jangan bertindak gegabah. Kita belum tau apa yang terjadi.” Kata Sivia ke Rio. Rio mengangguk.
***
Ify membuka mata saat ia merasakan panas menyengat menyentuh kulitnya. Ia bangun, berdiri dan menutup rapat tirai di kamarnya. Ia duduk dan melihat jam di sampingnya, 06.27 WIB.
“Kenapa matahari pagi terasa menyengat?” Ify menggeliat dan menarik selimutnya lagi.
“Kak Ify bangun! Ini udah pagi.” Ray membuka tirai kamar Ify dengan lebar. Sontak Ify menutupi dirinya dengan selimut.
“Ray! Tutup!” bentak Ify.
Ray yang tak biasanya dibentak Ify, segera menutup tirai itu, “Ma-maaf.”
Ify membuka selimutnya, dan menyeret Ray agar duduk di depannya, “Maafin Kak Ify, bukan maksud Kak Ify membentak. Okay?”
Ray menatap Ify. Ify tersenyum, “Sekarang sana pergi sekolah.”
Ray mengangguk dan keluar dari kamar Ify. Ify turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi. Satu jam kemudian dia sudah siap dengan pakaiannya.
“Udah baikan?” tanya Gabriel saat Ify tiba di ruang makan.
“Heem.” Ify mengambil selembar roti.
“Kak Iyel nggak ngampus?” tanyanya.
“Ntar.”
“Oke. Ify berangkat ya.”
***
Ify memarkir mobilnya dan mengambil kacamata hitam dari dashbor mobilnya.
“Kenapa hari ini begitu panas?” Ify berlari ke gedung utama kampus sampai tanpa sengaja bertabrakan dengan Rio yang juga tengah berlari.
“Oh hai Yo.” Rio yang menyadari ada Ify di sampingnya, refleks agak menjauh darinya.
“Loe kenapa?” tanya Ify heran.
“Nggak apa. Loe ada kuliah?” Rio mengalihkan pembicaraan.
“Ya. Loe sendiri?”
“Alvin sakit. Gue mau ngijinin dia.”
“Alvin sakit?”
“Heem.”
“Sakit apa?”
“Gue duluan ya. Daa Fy.” Rio berlari meninggalkan Ify saat melihat Mr. Kiki, dosen Alvin.
“Isssh! Gue ditinggal.”gerutu Ify.
***
Zeze tertidur di samping Alvin yang masih terbaring tak sadarkan diri. Sivia memandangi mereka berdua, memikirkan apa kata tetua tentang ini.
“Alvin berada di ambang kematian abadi. Kita belum tahu apa yang menyebabkannya, tapi secepatnya kami akan mencari tahunya.”
“Mohon bantuannya.” Kata Sivia saat mengantar para tetua kembali ke kediamannya masing-masing malam tadi.
“Vi, gue nemuin ini di kantong baju Alvin.” Sion menyodorkan sebuah botol ke Sivia.
“Apa ini?” Sion mengangkat bahu tanda tak tahu.
Sivia membuka botol itu dan menciumnya, “Darah.”
“Alvin tiba-tiba pergi meninggalkan pertemuan. Baru kali ini gue lihat dia sesemangat itu.” Kata Olivia saat Siva bertanya padanya.
“Apa darah ini yang bikin loe semangat? Darah siapa ini?” Sivia bertanya-tanya.
***
“Apa? Kabur?!” Cakka berdiri saat mendengar kabar tak sedap di teleponnya.
“Bagaimana bisa?!”
“Ka-kami tidak tau Boss. Tadi malam kami yakin sudah mengunci semua pintu. Bahkan sore ini kami memeriksa tak ada pintu yang rusak atau dibuka secara paksa.”
“Sialan!” umpat Cakka.
“Kerahkan semua orang dan cari sampai dapat!”
“Ba-baik Boss!”
Cakka mengetik sebuah nomor dan meneleponnya.
Ify keluar dari gedung kuliahnya sesaat setelah matahari tenggelam. Ia sangat-sangat capek dengan tradisional literatur yang baru saja ia pelajari.
“Drrrt drrrt drrrt!” Ponsel Ify bergetar tanda telepon masuk. Ada nama “Boss” disana.
“Ya?” jawab Ify.
“Dimana?”
“Kampus.”
“Ke markas sekarang!”
Ify terdiam sesaat, “Ba-baik!”
Ify masuk ke mobilnya dan melaju ke markas Werewolf. Ia membelokkan mobilnya di
pekarangan rumah Cakka yang merupakan markas Werewolf. Dia turun dan berjalan ke arah pintu.
Ia berhenti di depan pintu karena merasa di awasi oleh seseorang. Ify menoleh ke belakang dan mengamati keadaan sekitar. Dari balik pohon tak jauh dari rumah Cakka, Ify menemukan sepasang mata merah menyala tengah menatapnya. Ia bergidik ngeri dan bergegas masuk ke dalam rumah, sampai tiba-tiba Ify berhenti dan dalam sekejap sudah berdiri di belakang pohon yang dimaksud.
“Long time no see, Steven.”
“Hai anakku Ify.” Steven berbalik dan menatap Ify.
“Gue kira loe udah mati dengan darah Dera yang loe ambil. Ternyata loe masih bertahan hidup sebagai makhluk rendahan.”
“Dera mati sebelum aku sempat menyempurnakan perubahanku. Dasar wanita bedebah.”
“Jadi sekarang loe ngincer gue?”
“Ya, itu tujuanku kesini.”
“Duaaaak!” Steven terpental beberapa meter ke belakang.
“Gue nggak selemah Dera. Gue nggak akan termakan dengan status keluarga kita.” Steven meringis kesakitan.
“Duaaak!” Sebuah tendangan bersarang di perut Steven.
Ify mencengkeram kerah Steven dan melesat ke dalam rumah Cakka. Melempar Steven ke
meja kerja Cakka. Cakka yang terkejut dengan kedatangan Ify yang tiba-tiba, berdiri tak percaya.
“I-Ify.”
“Oh hai kakakku tercinta. Gue bawain loe oleh-oleh. Jangan sampai dia lepas atau gue akan membunuhnya.” Ify duduk di sofa di depan meja kerja Cakka.
“Ma-mama?” Cakka memandang Ify tak percaya.
“Maaf tapi gue bukan Dera. Gue Ify.”
“Ba-bagaimana mungkin segelnya?”
“Segel? Oh benda rongsokan yang dibuat Dera? Terimakasih kepada seorang vampire yang telah mematahkannya. Gue udah bebas.” Cakka hanya bisa berdiri terpaku, ia tak tahu harus berkata apa.
“Ada apa loe nyuruh gue kesini?” Cakka masih terdiam.
“Bukan hal yang penting? Kalau gitu gue pergi.” Ify berdiri dan meninggalkan Cakka yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
***
Ify keluar dari rumah Cakka dan menghirup napas dalam-dalam mencari bau seseorang. Setelah ketemu, ia segera berlari. Ia berdiri di depan sebuah apartment. Memencet bel dan menunggu seseorang membukanya. Rio membuka pintu apartmentnya dan ia melangkah mundur saat melihat orang yang berdiri di depannya.
“Hai my King.” Ify masuk ke apartment Rio dan duduk di ruang tamu. Rio menutup pintu dan mengikuti Ify. Ia duduk di seberang Ify.
“I-fy?” Rio memastikan.
Ify menoleh, “Ya, gue Ify.”
Rio menggeleng, “Bukan. Loe bukan Ify.”
Ify memasang tampang heran, “Gue Ify. Ify yang sebenarnya.”
“Gue haus. Darah loe belum siap?” tanya Ify. Tiba-tiba, Rio merasa mual. Darahnya meningkat. Ia menutup mulutnya. Ify melihat tingkah Rio dan tersenyum. Ify duduk di sebelah Rio dan memeluknya.
“I-Ify!” cegah Rio.
Ify meletakkan telunjuknya di mulut Rio dan menggigit Rio. Rio bisa merasakan taring Ify menembus kulitnya. Beberapa menit kemudian, Ify melepas pelukannya dan tersenyum,
“Thanks my King.”
“Loe siapa?” tanya Rio sesaat setelah Ify melepas gigitannya.
“Gue? Ify. Saufika Fiotama.” Katanya sambil berkedip.
“Loe bukan Ify. Loe bukan dia.”
“Ya mungkin gue beda dari Ify yang biasanya, tapi gue tetep Ify. Sebentar lagi juga loe
pasti tahu.” Kata Ify sambil tersenyum.
Tak lama Ify pingsan di pelukan Rio. Rio menggendong Ify dan menidurkannya di tempat tidur Rio. Rio duduk di pinggir ranjangnya dan memandangi Ify. Rio menoleh saat pintu kamarnya dibuka seseorang. Ada Sivia berdiri di sana.
“Ify?” Sivia kaget melihat Ify ada di tempat tidur Rio.
“Sssst!” Rio meletakkan telunjuk di bibirnya dan berjalan ke luar kamarnya diikuti Sivia.
Mereka duduk di ruang tamu.
“Kenapa Ify di sini?” tanya Sivia. Rio menunjuk ke lehernya yang kini berbekas merah di mana Ify menggigitnya.
“Lagi?” Rio mengangguk. Sivia terdiam.
“Tapi ini aneh deh.” Kata Rio. Sivia menoleh menatap Rio.
“Aneh?”
“Saat Ify dateng, gue baik-baik aja, kita masih sempet ngobrol. Tapi saat Ify tiba-tiba bilang dia haus, darah gue langsung meningkat. Seolah-olah darah gue bereaksi sama rasa haus Ify.”
Tiba-tiba Sivia teringat dengan botol yang di bawa Alvin. Dia mengeluarkannya dan memperlihatkannya ke Rio.
“Loe kenal darah siapa ini?” Rio menerima botol itu dan membukanya.
Tanpa ragu ia berkata, “Ify.”
Sivia melotot mendengar jawaban Rio, “Ify?”
“Heem, gue masih hapal dengan baunya saat gue minum darahnya.” Sivia semakin bingung.
“Itu ada di kantong celana Alvin. Katanya dia meninggalkan pertemuan dengan tergesa-gesa dengan membawa itu. Tahu artinya?”
“Dia bawa darah Ify?” tanya Rio.
Sivia mengambil botol di tangan Rio, “Gue rasa ini bukan sekedar darah Ify. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik darah ini.”
“Setelah Ify minum darah gue, dia selalu manggil gue “my King”, berarti dia tahu kalau gue Royal?” kata Rio. Sivia tampak berfikir.
“Aaah, pas gue tanya dia siapa, Ify bilang, gue pasti tahu siapa dia. Apa maksudnya?” tanya Rio lagi. Sivia dan Rio terdiam.
“Apa Ify udah jadi vampire?” tanya Sivia.
Rio menggeleng, “Itu juga aneh, jantungnya masih berdetak.”
Sivia membenamkan wajahnya ke bantal, berpikir.
“Loe pernah denger tentang segel vampire?” tanya Sivia kemudian.
Rio menggeleng, “Apa itu?”
“Segel yang digunakan untuk menyegel jiwa vampire dari seseorang yang terlahir sebagai darah campuran agar dia menjadi manusia.” Jelas Sivia.
“Maksudmu Ify punya segel itu? Ify seorang darah campuran?” Rio semakin tak mengerti.
“Kalau kita gabungkan semua pecahan yang kita punya, semua menjurus kesana. Dia berdarah campuran dan karena suatu hal segelnya melemah.” Kata Sivia. Rio tampak berpikir dengan serius.
“Loe inget saat loe minum darah Ify?” Rio mengangguk.
“Saat itu gue minum darah loe untuk membersihkan darah Ify. Dan gue bisa merasakan darahnya benar-benar darah manusia.”
“Lalu?”
“Kemudian saat loe menghapus ingatan Ify, gue bersihin darah loe dari darah Ify. Dan rasanya tidak sepenuhnya seperti darah manusia. Gue bisa merasakan sedikit nikmat saat meminum darahnya.” Cerita Sivia.
Sivia berdiri, “Segelnya sudah melemah saat itu!”
Sivia berjalan ke kamar Rio, ia duduk di samping Ify dan memeluknya. Ia mengeluarkan taringnya berniat mencicipi darah Ify, hingga tiba-tiba ia terhempas ke dinding.
“Via!” Rio berlari mendekati Sivia yang tengah meringis kesakitan.
“Belajar sopan santun, vampire kanibal.” kata Ify yang kini tengah duduk di atas tempat tidur.
Sivia menatap Ify, ada kekagetan terpancar di matanya saat ia melihat Ify. Ia berdiri,
“Salam kenal. Gue-saya Sivia.”
“Gue tau. Saudara kembar Rio, mantan kandidat Ratu.” Kata Ify.
“Maaf, tapi dia masih kandidat Ratu.” Kata Rio. Ify menatap Rio tajam.
“Loe lebih memilih dia daripada gue?” tanya Ify.
“Bukan itu masalahnya, tapi Sivia memang kandidat Ratu. Dia pemimpin Knight Elite dan berhak menyandang gelar Ratu.” Jelas Rio
“Bagaimana dengan gue?” tanya Ify.
“Loe bu-” Sivia menghentikan celoteh Rio dan berdiri di depan Ify.
“Maafkan atas kelancangan saya.”
“Loe apa-apaan sih?! Jangan merendah di hadapan siapapun. Seberapa besar pun rasa suka gue ke Ify, loe tetap Ratu gue.” Rio menarik lengan Sivia.
Sivia menatap lekat wajah Rio, “Ify, dia Ratu yang sebenarnya.”
Rio menatap Ify, dan Ify tersenyum.
“Apa maksud loe?” tanya Rio ke Sivia.
“Dia vampire Noble.” Jawab Sivia singkat.
“Bagaimana loe tau?”
“Secara naluriah loe akan tahu, cukup pandang Ify sebagai seorang vampire. Dan loe akan bisa mengatakan dia Noble.” Rio menatap Ify. Ia membelalakkan matanya. Ify benar-benar anggun. Keanggunan seorang Noble. Sivia meninggalkan Rio dan mendekati Ify.
“Ada banyak yang ingin saya tanyakan. Mungkin kita bisa bertemu lagi.”
Ify tersenyum, “Walau gue sedikit menjengkelkan, mohon bantuannya.”
Sivia tersenyum dan melangkah keluar. Rio mengikuti Sivia keluar.
“Vi! Sivia! Tunggu!” Sivia menoleh.
“Loe nggak apa?” tanya Rio.
“Ya, posisi itu memang bukan buat gue. Gue hanya pengganti. Saat loe minum darah Ify, gue tahu akan ada Noble yang muncul walaupun awalnya gue mengira itu Dera.”
“Jadi ini semua karena gue?”
“Keutuhan bangsa vampire lebih utama daripada perasaan gue. Jangan khawatir.” Sivia menepuk pipi Rio dan melangkah pergi.
***
Rio kembali ke kamarnya. Ify masih duduk di tempat tidur Rio. Rio menatap Ify.
“Sivia mendapat gelar ini sejak 50 tahun yang lalu. Dan loe tiba-tiba datang merusaknya. Walaupun loe seorang Noble, itu bukan sifat seorang Noble.” Kata Rio.
Ify tersenyum mendengar Rio, “Devil Mode.”
“Gue yang sekarang, hanya efek samping penggunaan kekuatan yang berlebihan.”
Rio mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur, “Apa maksud loe?”
“Jiwa gue tersegel dalam jantung Ify. Karena segelnya melemah, kesadaran gue kembali.
Saat gue merasa haus, gue berusaha keluar dari segel. Dan terlalu banyak kekuatan yang gue pakai. Akibatnya gue keluar dalam Devil Mode. Angkuh dan egois.” Kata Ify.
Ify berdiri dan merapikan bajunya, “Hancurkan segelnya.”
“Gue?” tanya Rio.
“Ya, hanya seorang Noble yang bisa memperbaikinya. Tapi seorang Royal bisa
menghancurkannya. Loe bisa.”
“A-apa yang terjadi kalau segelnya dihancurkan?” tanya Rio penasaran.
“Kebangkitan sempurna.”
“Maksudmu Ify benar-benar menjadi vampire?” Ify mengangguk.
“Nggak! Gue nggak mau dia jadi seperti gue. Loe harus perbaiki segelnya. Loe Noble kan?”
Ify memandang Rio, “Gue nggak bisa perbaiki sendiri. Dan kalian nggak punya Noble lain. Jadi loe nggak punya pilihan lain.”
“Terimakasih untuk hari ini. Gue harus pulang.” Ify keluar dari kamar Rio.
Beberapa saat kemudian, Rio keluar dari apartmentnya dan mencari keberadaan Ify. Ia khawatir dengan keadaan Ify. Ia menemukan Ify sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah. Dia masih Ify yang sebelumnya. Rio bisa merasakan aura vampire darinya.
Rio terus mengikuti Ify hingga dia sampai dirumah. Ify turun. Sesaat kemudian, tiba-tiba Ify jatuh terduduk. Perutnya mual dan kepalanya pusing.
Ia melihat ke sekelilingnya dan terkejut, “Ba-bagaimana gue bisa dirumah?”
Ify berusaha berdiri, tapi entah kenapa rasa mualnya benar-benar membuatnya tak sanggup berdiri.
“Uughh!” Rasanya ia ingin memuntahkan apa yang ada di perutnya.
“Ify!” Rio mendekati Ify.
“Loe kenapa?”tanyanya.
Ify menggeleng, “Rasanya gue habis makan sesuatu yang menjijikkan.”
“Darah.” Satu kata yang terlintas dalam pikiran Rio.
“Loe bisa berdiri?” tanya Rio lagi.
“Entahlah.”
“Ify!” Gabriel yang mendengar suara berisik di luar, keluar dan melihat Ify. Ia mendekati Ify dan Rio.
“Loe kenapa?” Ify hanya tersenyum. Gabriel memegang tangan Ify berniat untuk membantu Ify berdiri. Tapi ia tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
“Ba-badan loe panas Fy.” Gabriel menyentuh kening Ify.
“Benar-benar panas.”
Tak lama kemudian, Ify pingsan. Gabriel segera menggendong Ify dan membawanya masuk. Rio hanya berdiri terpaku, ia teringat kata-kata Ify sebelumnya bahwa ia tak punya pilihan lain.
“Apa ini yang dia bicarakan?” Rio melompat dan berdiri di pohon di luar kamar Ify. Ia melihat Gabriel tengah menyelimuti Ify.
Setelah Gabriel pergi, Rio melompat ke balkon kamar Ify dan berjalan masuk. Ia duduk di samping Ify, menyentuh pipi Ify. Ia sama sekali tak merasakan panas di tubuh Ify.
“Kenapa ini?” Rio bertanya-tanya.
“Rio?” Rio menoleh dan mendapati Sivia berdiri di balkon kamar Ify.
“Vi, gue nggak bisa rasain panas Ify. Ada apa dengan gue?” kata Rio dengan sedikit panik.
“Bukan loe. Tapi Ify.” kata Sivia.
“Apa maksud loe?”
“Dia sekarat.” Rio memandang Sivia.
“Loe harus hancurkan segelnya.”
“Tapi….tapi dia akan jadi vampire.” Sanggah Rio.
“Ify tak bisa menahan darah yang dia minum, tapi dia juga tak bisa menahan rasa hausnya. Loe pilih, Ify mati sebagai manusia atau hidup sebagai vampire?” tanya Sivia.
“Si-sivia? A-apa yang kalian bicarakan?” tiba-tiba Gabriel sudah berdiri di ambang pintu kamar Ify. Rio dan Sivia menoleh.
“I-iyel?” Sivia tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
“Ify, Ify seorang vampire?” Rio dan Sivia terdiam.
“Apa yang sudah kalian lakukan? Apa yang kalian lakukan ke Ify?” Amarah Gabriel tak tertahankan.
“Loe harus tenang Yel.” Bujuk Sivia.
“Apa yang kalian lakukan ke Ify? APA?!!”
“Haisssh! Kalian bangunin gue lagi? Tak bisakan gue dapat istirahat yang baik?” suara Ify menghentikan ketiganya. Rio dan Sivia mundur beberapa langkah. Gabriel berjalan mendekati Ify.
“Ify!” kata Gabriel.
Ify bangun dan melihat sekelilingnya, “Siapa loe?”
Gabriel terkejut, ia melangkah mundur, “I-Ify?”
“Oh loe Gabriel. Kalau loe nyari Ify yang biasanya, harus gue katakan keadaannya sangatlah buruk.” Kata Ify.
Rio mendekat, “Apa maksud loe?”
“Dengan kata lain dia sekarat.” Tambah Ify. Sivia, Rio dan Gabriel menundukkan kepalanya.
“Loe masih nggak mau bangkitin gue?” tanya Ify.
“Kebangkitan sempurna berarti gue dan Ify bisa bersatu. Dia akan menyadari keberadaan gue dan statusnya.” Kata Ify.
“19 tahun gue hidup dalam jantung Ify, gue sadar kalau gue juga menyayanginya. Gue nggak mungkin membiarkan Ify menderita seperti ini. Hancurkan segelnya!” suruh Ify.
Sivia memandang Rio, “Loe sayang Ify kan?”
Rio terdiam, sesaat dia memandang ke Gabriel. Gabriel balas menatap Rio.
“Bukan masalah Ify vampire atau manusia.” Kata Gabriel.
Rio berjalan mendekat ke Ify. Ia duduk di depan Ify.
Ify menggigit lidahnya hingga berdarah. Rio pun melakukan hal yang sama. Satu detik kemudian, Rio mendekat dan mencium bibir Ify. Blood line. Membuat ikatan dengan darah.
***
Langganan:
Komentar (Atom)