Sabtu, 25 April 2015

Destined Couple -Chapter 4-

Cakka duduk di ruang kerjanya. Mengutak-atik laptop di depannya. Jendelanya masih bertirai tanpa ada cahaya yang masuk. Dia tak tahu itu siang atau malam. Shilla masuk membawa satu nampan berisi susu dan roti panggang. Ia meletakkan nampannya di meja kerja Cakka dan memeluk Cakka dari belakang kursinya.

“Aku membuatkanmu sarapan sayang.” kata Shilla manja. Cakka menoleh dan mencium pipi Shilla. Shilla melepaskan pelukannya dan duduk di bantalan tangan kursi Cakka.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Shilla sambil melihat layar laptop Cakka.

“Elite kita hanya tinggal ini?” Shilla menatap Cakka sambil menunjuk ke layar laptop.

“Ayah mengamuk dan membunuh beberapa elite yang menjaganya.”

Shilla memeluk Cakka erat, “Aku tahu ini pasti berat bagimu.”

Cakka terdiam. Ia menutup laptopnya dan membalas pelukan Shilla.

“Hari ini aku akan menemui Ayah.” Shilla mengangguk.

Beberapa saat mereka terdiam. Hingga Shilla memberanikan diri bicara.

“Tak maukah kau mempertimbangkan ideku? Aku yakin mereka bisa membantu.”

Cakka melepas pelukan Shilla dan berjalan keluar, “Entahlah. Sudah cukup berurusan dengan vampire.”


Ify keluar dari bathup dan membasuh dirinya. Ia telah berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi ia sama-sekali tak bisa mengingatnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

“Ada apa sebenarnya? Masak iya gue nggak ingat sih?”

“Kak Ify!” teriak Ray dari luar kamar mandi. Ify segera memakai bajunya dan berjalan keluar.

Ray tersenyum saat melihat Ify keluar. Di tanganya ada nampan berisi segelas susu dan semangkuk bubur yang masih terlihat panas.

“Bubur spesial buat Kak Ify yang cantik.” Kata Ray sambil meletakkan nampan di samping tempat tidur Ify.

Ify tersenyum dan berjalan ke tempat tidurnya, “Makasih ganteng.” Ify mengacak-acak puncak kepala Ray.

“Drrrrt drrrt drrrt!” ponsel Ify bergetar. Tangan Ify bergetar saat ia melihat siapa yang 
meneleponnya.

“Ya?” sapa Ify dengan agak ketakutan. Ray bertanya-tanya kenapa Ify tampak ketakutan. Gabriel yang sedang berjalan melewati kamar Ify, berhenti saat melihat raut wajah Ify berubah. Ia langsung tahu siapa yang meneleponnya. Disambarnya ponsel Ify.

“Ify butuh istirahat. Jangan hubungi dia dulu.” Gabriel menutup ponselnya dan memberikannya ke Ify.

“Jelaskan ke mereka keadaan loe sekarang. Jangan biarkan mereka memberimu tugas!” pinta Gabriel. Ify hanya mengangguk.


Amarah Cakka tak tertahankan saat Gabriel tiba-tiba memutuskan teleponnya. Dia memasukkan ponselnya dan menuju ke mobilnya. Shilla yang tengah mengamati Cakka dari mobilnya, segera mengikuti Cakka saat Cakka keluar dari rumahnya.

Selama hampir 2 jam Shilla mengikuti mobil Cakka, Cakka memasuki pelataran sebuah rumah. Ini markas rahasia Werewolf, tempat ayah Cakka berada. Cakka masuk dan menuju ke basement rumah itu. Shilla mengurungkan niatnya mengikuti Cakka ke basement dan memilih naik menuju ke ruang kerja Cakka.

Cakka menuruni tangga yang gelap dan lembab menuju ke basement. Hingga dia tiba di sebuah ruangan dengan seorang laki-laki duduk di sebuah kursi di ruangan itu.

“Ayah.” Laki-laki itu menoleh.

“Kau sendiri? Mana adikmu?”

“Bagaimana kabar ayah?” tanya Cakka tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.

“Aku tanya dimana adikmu?!” Ayahnya berdiri dan menggebrak meja di depannya.

“Sudah ku bunuh.” Kata Cakka. Terlihat kemarahan ayahnya sudah mencapai puncaknya.

“Siapa yang menyuruhmu membunuhnya?! Dia adalah senjata kita!” bentak ayah Cakka.

Cakka mengangkat kepalanya dan menatap ganas ayahnya, “Dia bukan senjata! Dia adikku! Dia anakmu!”

“Dia tetap senjata. Kau cukup menghancurkan segelnya Kka.” Suara ayah Cakka melembut.

“Stop perlakukan dia seperti senjatamu. Aku akan membunuhnya dan membuat dia menjadi manusia seutuhnya!” Cakka berbalik dan melangkah keluar.

“Kau tak bisa membayangkan keberuntungan Ify. Kau belum membunuhnya. Lebih tepatnya, kau belum berhasil membunuhnya.” Cakka menutup pintu dan berlalu.


Ruang kerja Cakka tak jauh beda dengan yang ada di rumahnya. Gelap, penuh dengan buku dan senjata. Shilla berkeliling ruangan itu. Hingga matanya tak sengaja melihat sebuah buku usang tergeletak di bawah sofa. Shilla berjongkok dan mengambil buku itu. Dia duduk di sofa dan membacanya.

“Dera ke-77” Shilla membaca nama yang tertulis di cover buku itu. Dibukanya lembaran pertama.

19 Mar 1965. 143. Kata yang lain, ini sudah waktunya terima takdir. Tapi mereka tak tahu seperti apa takdirku. Tidak. Aku tidak mau.

“Sepertinya ini buku diary. Buku 50 tahun yang lalu.” Batin Shilla. Dia membuka satu halaman lagi.

30 Apr 1965. Aku tak suka dia. Kasar dan seenaknya. Bagaimana mungkin dia menjadi yang pertama.

9 Jun 1965. Kata tetua, lima hari lagi saat bulan purnama, semua akan terkendali. Aku rasa tidak.

12 Jun 1965. Aku sudah tidak tahan. Dia memakai gelarnya untuk memaksaku.

13 Jun 1965. Selamat tinggal. Aku sudah menyerah. Salah kalian memilih dia sebagai pemimpin.

Shilla berhenti membaca dan menutup mulutnya, “Bunuh diri?”

Shilla membalik satu halaman lagi dan menghela napas lega.

28 Aug 1965. Ini lebih baik. Aku bebas.

Selama beberapa lembar hanya berisi pengalaman di berbagai negara, hingga di suatu halaman, sesuatu membuatnya kaget.

10 Jan 1989. Steven Fiotama. Nama yang indah. Dia mencuri perhatianku.

“Ayah Cakka.”

9 Jul 1989. Dia tahu rahasiaku. Tapi dia tidak takut.

”Rahasia?” Shilla semakin penasaran.


Cakka keluar dan masuk ke mobilnya. Saat ke luar dari pelataran, tanpa sengaja ia melihat mobil Shilla terparkir tak jauh dari gerbang.

“Kenapa dia parkir di luar? Jangan-jangan!” Cakka turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah.

“Shilla!” ia berteriak memanggil Shilla.
Cakka berlari ke ruang kerja Shilla di lantai 2, namun tak ada tanda bahwa Shilla ada di situ.
“Kemana sih? Shilla!” Cakka berlarian sepanjang koridor, hingga tiba-tiba dia teringat akan ruang kerjanya. Segera mungkin dia naik ke lantai 4 dimana ruang kerjanya berada.
۞۞۞
Shilla masih membuka buku itu dengan penasaran. Ia merasa ada sesuatu disini yang ganjil. Apa Dera ibu Cakka? Tapi siapa dia? Dia sudah mulai menulis buku dari 50 tahun yang lalu, tapi dia menikahi ayah Cakka.

30 Des 1989. Dia menerimaku apa adanya. Dia melamarku.


9 Sept 1990. Janji suci kami terikat. Ini yang aku inginkan.

18 Aug 1994. Aku berhasil melahirkannya. Dia manusia. Laki-laki yang tampan. Kami memberinya nama Cakka.

Oh my! Dia memang ibu Cakka.”

4 Okt 1995. Kesalahan terbesarku. Steven mulai terkontaminasi darahku. Ini bisa berbahaya.

6 Des 1996. Oh tidak. Dia keturunanku. Gawat jika Steven mengetahuinya. Mungkin aku bisa mengelabuinya. Seorang perempuan cantik yang juga akan jadi manusia, Saufika.

“Apa yang loe lakuin disini?” Cakka sudah berdiri di depan Shilla.

Shilla berdiri, menyembunyikan buku tadi di belakang badannya “Gue…..gue nyari loe.”

Cakka memegang tangan Shilla dan mengangkatnya, ia melihat ada buku di tangan Shilla. 
Ia mengenali buku itu. Ditatapnya Shilla. Cakka mengambil buku itu dan menghempaskan tangan Shilla.

“Siapa yang memberimu ijin membaca buku orang lain?” tatapan Cakka yang garang langsung terarah ke mata Shilla.

Shilla menunduk, “Maaf.”

Cakka memegang pundak Shilla dan menghempaskannya ke belakang hingga Shilla terjatuh di atas sofa. Cakka mengambil pistol Smith&Wesson 0,38 dari meja di samping sofa dan mengarahkannya ke kepala Shilla. Shilla hanya memejamkan matanya dan menggenggam erat baju Cakka.

“Sejauh mana yang loe baca?”

“Sa-Saufika.” Jawab Shilla gemetar. Cakka terdiam.

“A-apa dia Ify?” Shilla memberanikan diri bertanya.

Cakka meletakkan kepalanya di pundak Shilla. Dia berdiri dan duduk bersandar di sofa. 
Diletakkannya pistol yang tadi dipegangnya.

Shilla bangun dan duduk di samping Cakka. Cakka hanya memandangi buku di hadapannya dalam diam. Shilla hanya menemaninya tanpa suara.


Malam datang kembali. Baik Sivia, Rio, Alvin, Zeze atau Sion yang sudah datang bergabung tak menemukan misteri tentang Ify. Seluruh buku di Rumah Sivia tak bisa menemukan jawabannya. Alvin dan Sion sudah terkapar di lantai karena kelelahan.

“Gue nggak sanggup Vi. Buku itu sama dengan darah makhluk hidup.” Kata Sion.

Zeze dan Sivia hanya tersenyum simpul. “Itulah loe sejak dulu, paling anti sama buku.”

Alvin berdiri dan meregangkan badannya, “Gue rasa gue mau berburu dulu. Sion, ayo!”

“Ngapain ajak Sion?” tanya Zeze.

“Sekalian lanjut nyari Dera.” Jawab Alvin. Zeze mengangguk dan melambaikan tangan.

Rio masuk ke ruang kerja Sivia dengan satu tumpuk buku di tangannya, ia heran saat hanya melihat Sivia dan Zeze di situ, “Dimana Alvin dan Sion?”

“Berburu.” Jawab Sivia singkat.

“Oooh.” Rio duduk dan meneliti buku yang baru dibawanya. Tak lama, ia menghentikan kegiatannya karena merasa ada yang tak beres dengannya.

“Ada apa? Sudah dimulai?” Sivia yang melihat Rio tiba-tiba terdiam mendekatinya.

Rio menggeleng. Dan dengan segera dia berdiri, berlari ke arah jendela dan melompat.

Rio terus berlari menuju ke satu tempat. Ify. Ia merasa Ify memanggilnya.


Shilla dan Cakka masih terdiam di ruang kerja Cakka. Tak ada niatan bagi keduanya untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Bahkan malam yang sudah semakin larut tak dihiraukan mereka.

“Sayang.” Shilla memanggil Cakka.

“Heem.” Sahut Cakka.

“Dera, ibu loe?” tanya Shilla ragu-ragu.

“Heem.” Cakka berdehem.

“Dia vampire?” tanya Shilla hati-hati. Cakka menoleh dan menatap Shilla.

“Ma-maaf. Gue….gue….” Shilla serba salah.

“Ya.” Jawab Cakka singkat. Berhasil membuat Shilla kaget.

“Ja-jadi Ify?”

“Vampire. Ify vampire.” Kata Cakka.

Shilla menutup mulutnya, ia benar-benar tak pernah membayangkan hal ini.

“Ayah gue terobsesi dengan keabadian yang dimiliki ibu gue. Dia mulai meminum darahnya saat dia mengandung Ify. Itu membuatnya melemah dan tak bisa menjaga Ify dalam 
kandungannya.” Cerita Cakka.

“Ify dilahirkan sebagai vampire. Seorang Noble, kandidat Ratu.”

“Tapi dia punya jantung. Dia hidup.” Kata Shilla.

“Belum sempat Ayah mencapai keabadian, Mama memutuskan untuk mengakhiri keabadiannya. Tapi sebelum itu, Mama menyegel jiwa vampire Ify agar ia tak dimanfaatkan oleh Ayah.”

Shilla berdiri, “Tapi kau ingin membunuhnya!”

“Jika gue bisa bunuh Ify, dia bisa jadi manusia selamanya.” Jawaban Cakka telak membuat Shilla terdiam.

“Tapi gue selalu gagal. Entah tiba-tiba aura vampirenya muncul atau munculnya tokoh-tokoh seperti Gabriel yang mati-matian menjaganya.”
Shilla kembali duduk dan memeluk Cakka.


“Syukurlah loe udah baikan.” Gabriel mengelus rambut Ify. Ify tersenyum.

“Sekarang istirahatlah. Besok pasti lebih baik.” Ify mengangguk. Gabriel berdiri dan berjalan keluar.

“Selamat malam.” Sapanya.

“Selamat malam Kak.” Jawab Ify.

Ify mencoba tidur setelah Gabriel meninggalkan kamarnya. Entah ia sudah tertidur atau belum, tiba-tiba ia merasa sangat haus dan terbangun. Ia duduk dan mengambil air minum di sampingnya. Setelah meneguk habis satu gelas air putih, tenggorokannya masih terasa sangat haus. Ia menuang satu gelas lagi dan meminumnya. Namun tak ada bedanya. Tenggorokannya semaki terasa kering.

“Kenapa ini?”

Ify turun dari tempat tidur berniat mengambil minuman lain di dapur, saat ia tiba-tiba melihat siluet seseorang berdiri di luar jendela kamarnya. Ify berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya. Ia melihat ada Rio di sana.

“Rio.” Ify membuka jendela dan berjalan ke balkon.

“Hai Fy.” Rio tersenyum.

“Bagaimana loe bisa?” Ify melihat ke luar kamarnya. Menerka-nerka bagaimana Rio bisa ada di balkon kamarnya.

“Rahasia. Biar kayak di sinetron.” Canda Rio. Dia duduk di pagar balkon kamar Ify. Ify ikutan duduk di sampingnya.

Ify menatap Rio. Ada perasaan aneh yang menyerang dirinya. Ify berdiri di depan Rio. 
Tangan kanannya mulai meraba dada Rio.

Rio memegang tangan Ify untuk menghentikannya, “Loe kenapa Fy?”

Ify hanya menatap Rio. Tangan kirinya kini sudah melingkar manis di leher Rio. Ify berjinjit dan memeluk Rio.

Rio yang masih bingung dengan tingkah Ify, hanya melihat apa yang akan dilakukan Ify, sampai Rio merasakan sesuatu yang tajam dan dingin menembus kulit lehernya. Sesaat Rio tak bisa bergerak dalam pelukan Ify. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong Ify menjauh.

Terlihat Ify nampak kebingungan, “A-ada apa?”
Rio menyentuh lehernya dan mendapati luka gigit di sana.

“Nggak mungkin.” Kata Rio.

“Apa yang nggak mungkin?” Ify berjalan  mendekat.

“Ja-jangan mendekat!” Rio nampak ketakutan.

“Loe kenapa Yo?” Ify kaget melihat Rio ketakutan.

Tiba-tiba, Rio mulai merasa mual. Sudah saatnya berburu. Rio berbalik untuk pergi mencari mangsa. Tapi tangan Ify berhasil menahannya.

“Gu-gue harus pergi.” Kata Rio.

“Loe nggak mungkin lompat dari sini.” Kata Ify.

Rio melepaskan genggaman tangan Ify saat tiba-tiba rasa sakit mulai menyerangnya. Dia terjatuh dan mengerang kesakitan.

“Si-Sivia! Aaaarrrgh!” rasa sakitnya tak lagi tertahankan.

Ify duduk di depan Rio, memegang kepala Rio agar menatapnya, “Hai, my King.
Ify mencium bibir Rio sesaat dan beralih ke leher Rio. Rio bisa merasakan darahnya mengalir ke lehernya.


Sivia berdiri saat samar-samar mendengar suara Rio memanggil namanya. Dia melihat ke arah Zeze dan dia mengangguk, “Gue juga denger.”

Sivia dan Zeze segera menyusul Rio. Mereka berdiri di sebuah pohon tak jauh dari balkon Ify. Sivia terkejut dengan apa yang dia lihat. “A-apa yang terjadi Ze? Ba-bagaimana bisa Ify?”

Zeze pun tak kalah kagetnya dengan Sivia, “Gu-gue juga nggak tau Vi. I-ini benar-benar diluar dugaan gue.”

Ify melepaskan gigitannya, “Sampai berjumpa lagi, my King.

“Loe kenapa Yo?” tanya Ify kemudian.

Rio menatap Ify dan menggeleng, “Bukan apa-apa.”

Rio berdiri diikuti Ify. Tiba-tiba Ify jatuh pingsan. Dengan sigap Rio menangkap Ify yang hampir saja terjatuh.

Sivia dan Zeze melompat ke balkon kamar Ify, “Apa yang terjadi?”

Rio mengangkat tubuh Ify dan menidurkannya di tempat tidur. Menyelimuti dan membersihkan sisa darah di sudut bibir Ify.

“Apa yang terjadi Yo?” Sivia mendekati Rio. Rio menggeleng.

“Justru gue yang mau tanya ke loe? Ada apa dengan Ify?” tanya Rio.

Sivia menggela napas, “Lebih baik kita pulang dulu sekarang. Ze, panggil Alvin dan Sion.”

“Loe bisa jalan?” tanya Sivia ke Rio. Rio mengangguk.

“Lari sampai Romania juga gue bisa.” Kata Rio sambil pergi dari kamar Ify.


“Apa yang terjadi?” tanya Alvin ketika ia masuk ke ruang tamu rumah Sivia.

“Ify meminum darah Rio.” Kata Zeze.

“Eeeehh?” Serentak Sion dan Alvin memperlihatkan kekagetannya.

“Bagaimana keadaan Rio?”

“Lebih baik dari sebelumnya.” Jelas Sivia saat Rio masuk membawa satu tumpuk buku di tangannya.

“Ini semua buku yang bisa gue dapat.” Katanya.

“Buku apa itu?” tanya Sion.

“Buku tentang gue.” Kata Rio sambil membuka salah satu buku.

“Kita berpendapat ini ada hubungannya dengan status Rio sebagai King dari Royal Vampire.”


Sivia tengah berjalan sendiri di tengah hutan di tepi kota. Ia ingin berburu. Darah Rio sudah di minum Ify jadi ia harus mencari Royal Vampire lainnya.

Ia mencium bau darah. Dengan segera dia berlari dan mendapati Aren tengah mengintai seseorang dari kejauhan.

“Boleh gue ganggu kesenangan loe? Gue butuh makan.” Kata Sivia.

“Huaaa!” Aren mundur beberapa langkah.

“Nona Sivia. Anda mengagetkanku.’ Katanya.

“Kau mengincar seseorang?” Aren mengangguk.

“Boleh buat gue aja?” Aren memandang heran.

“Bagaimana dengan Tuan Rio?”

“Ada beberapa kejadian, darah Rio sudah habis.”

“Kalau begitu, ijnkan saya.” Aren berjongkok di depan Sivia.

“Jangan begitu, gue bukan lagi Kandidat Ratu.” Aren menengadahkan kepalanya. Sivia duduk memeluk Aren dan mulai meminum darahnya.

“Apa maksud Anda?” tanya Aren saat Sivia selesai menikmati darahnya.

“Suatu saat loe akan tau.” Sivia tersenyum.

“Oooh ya, siapa orang yang loe incar? Bukannya hasrat loe kasih sayang?”

Aren mengangguk, “Saya menemukan seseorang yang sedang memikirkan –mungkin– kekasihnya.”

“Dimana?”

“Di sebuah rumah, sekitar 1 km dari sini.” Sivia mengangguk.

Anyway, thanks Ren.” Aren tersenyum dan pergi meninggalkan Sivia.

Sivia yang penasaran dengan target Aren yang memiliki hasrat kasih sayang, pergi ke rumah yang ditunjuk Aren. Ia kaget melihat siapa pemilik rumah itu. Ify. Sivia melihat Gabriel tengah duduk di teras.

“Bukankah dia si alat Pasif?”

Sivia duduk di batang sebuah pohon tepat di depan rumah Ify, mengamati laki-laki yang sedang asyik dengan gadgetnya. Wajahnya yang samar-samar tersinari cahaya dari gadget berhasil menarik perhatian Sivia. Wajahnya yang terlihat polos, tak menyiratkan bahwa dia sudah membunuh banyak orang.

“Inilah pembunuh berwajah tak berdosa yang sebenarnya.” Batin Sivia.
Setelah puas memandangi Gabriel, Sivia berdiri berniat untuk pergi. Tapi ia salah berdiri dan terpeleset jatuh.

“Braaak!” Terjun bebas 6 meter baru saja di alami Sivia.

“Isssh!” Sivia mengusap tangannya yang penuh tanah.

“Loe nggak papa?” Gabriel sudah berdiri di depan Sivia mengulurkan tangannya.

Sivia berusaha menyembunyikan kekagetannya saat ia melihat Gabriel di depannya. Dia menerima uluran tangan Gabriel dan berdiri. Dibersihkannya celana jeans yang dipakainya.

“Thanks.” Katanya.

Gabriel tersenyum, “Ngapain malem-malem manjat pohon?”

“Ehh?”

“Gue liat loe dari tadi duduk di sana.” Gabriel menunjuk ke dahan pohon tempat Sivia duduk sebelum dia terjatuh.

“Gue…..gue….” Sivia tak tahu harus menjawab apa.

“Loe temen Obiet?” tanya Gabriel. Sivia menatap Gabriel tak percaya.

“Loe kenal Obiet?” tanya Sivia balik.

“Dari ekspresi loe, gue yakin loe salah satu dari mereka.” Kata Gabriel.

Sivia memanyunkan bibirnya, “Sorry ya, gue bukan salah satu dari mereka.”

Gabriel memandang Sivia heran. “Ya, gue salah satu dari mereka tapi gue beda jenis.”

“Isssh pokoknya gue bukan mereka.” Kata Sivia gusar. Gabriel akhirnya tertawa.

“Apa yang lucu?” tanya Sivia marah.

“Vampire bisa salah tingkah juga ternyata.” Sontak wajah Sivia memerah.

“Gue Gabriel. Loe?” sekali lagi Gabriel mengulurkan tangannya.

“Sivia. Sivia Ramadiel.”

***

Sabtu, 18 April 2015

Destined Couple -Chapter 3-

“Kriiiing Kriiiiing Kriiiing!” Kembali jam beker Ify membuat seisi rumah bising.

Ify mematikan jam beker itu dan berdiri, “Selamat pagi dunia.”

Hari ini adalah kesempatan lain untuk mengungkap misteri. Setelah semalaman bergadang memikirkan banyak kejadian, Ify langsung tertidur sesampainya di rumah.

“Selamat pagi.” Sapanya ke Gabriel dan Ray yang tengah bersiap untuk ke sekolah.

“Kak Ify, jangan lupa ada pertemuan wali murid.” Kata Ray.

Ify menatap Ray, berjalan menuju dapur. “Kak Iyel, mandi dan bersiap ke sekolah Ray!”

Ray hanya menatapnya heran sedangkan Gabriel beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamarnya. Ray berlarian menghampirinya, “Apa Kak Iyel bakal mau?”

Ify menatap Ray dan mengedipkan matanya, “Kau mau sarapan apa?”

Ray tersenyum, “Telur dan bacon.”

“Ting tong!” Ify berlari ke arah pintu dan melihat siapa yang datang. Dia membuka pintu dan menyapa orang di depannya.

“Kak Shilla!”

“Hai Fy.”

Ashilla Kawanara. 21 tahun. Sahabat Cakka sekaligus partnernya. Dikenal sebagai Lady of Arc. Shilla adalah seorang atlit panah nasional. Senjata Shilla sebagai hunter adalah panah. Satu-satunya senjata manual yang dipakai Werewolf. Shilla adalah mata-mata Ify untuk Cakka. Dia yang selalu memberinya kabar tentang keadaan Cakka ke Ify.

Ify menyeret Shilla masuk dan duduk di ruang tamu.

“Biar Ify ambilkan minum dan kue.” Ify berlari menuju dapur.

Sesaat kemudian, Ify kembali dengan dua gelas jus lemon dan 1 piring kue. Ify meletakkan bawaannya di meja dan segera duduk memeluk Shilla.

“Ify kangen banget.” Shilla tersenyum melihat tingkahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Ify  menegakkan badannya dan mengangguk, “Seperti yang Kak Shilla lihat.”

Mereka bercengkrama hingga suara perut Ify menghentikan kegiatan mereka.

“Sudah waktunya makan siang. Ify akan memasakkan sesuatu yang spesial.” Ify berdiri dan berjalan ke arah dapur.

“Ting tong!” Suara bel menghentikan langkah Ify. Dia berbalik dan berjalan menuju pintu. Ada Rio di sana, berdiri memakai jaket lengan panjang, topi dan kacamata hitamnya.

“Rio?” Ify mengernyitkan alisnya saat melihat gaya berpakaian Rio.

“Loe kesambet apaan?” tanya Ify lagi.

“Boleh gue masuk?” tanya Rio. Ify mengangguk dan memberinya jalan.

Rio masuk dan mencopot jaket, topi dan kacamatanya. Ia berjalan menuju ruang tamu dan langkahnya terhenti saat melihat orang yang telah berdiri untuk menyambutnya.

Shilla tersenyum, “Hai Yo.”

Rio hanya diam dan melanjutkan langkahnya. Duduk di kursi depan Shilla. Ada kecanggungan di sana.

“Kalian saling kenal?” tanya Ify sembari duduk kembali di samping Shilla.

“Ya kami bertemu dalam beberapa kesempatan.” Jawab Shilla.

Ify mengangguk tanda mengerti, “Baiklah silakan lanjutkan percakapan. Gue akan buatin masakan yang enak.”

“Gue ragu Rio akan memakannya seenak apapun itu.” Kata Shilla diikuti tatapan tajam dari Rio.

Ify menatap Shilla heran, kemudian beralih ke Rio, “Loe nggak bakal makan masakan gue?”

Rio ganti menatap Ify, “Gue udah makan.”

Ify memberinya tatapan tajam, Rio menghela napas, “Oke oke gue makan”
Ify tersenyum dan berlari ke dapur.

“Loe nggak pernah bilang ini jebakan buat Ify.” Rio membuka suara setelah beberapa saat Ify meninggalkan dia sendiri bersama Shilla.

“Gue juga nggak tau kalau Cakka ada di balik semua ini. Gue hanya tau, hari itu Ify ada kerjaan.” Rio mendengus.

Ify yang sudah siap dengan makanannya, berjalan ke ruang tamu membawa tiga piring sandwich di nampan.

“Gue dengar dia tertembak di jantungnya. Loe hidupin dia lagi?” Suara Shilla menghentikan langkah Ify.

“Dia belum mati.” Kata Rio terdengar.

“Jadi…..? Ja-jangan bilang loe minum darahnya?” Suara Shilla meninggi.

“Darah?” kata Ify pelan sambil terus menguping.

“Loe gila ya? Itu bisa ngebunuh loe.” Kata Shilla.

“Sebagai seorang hunter, bukannya loe harusnya seneng ada 1 vampire mati?” Pertanyaan Rio sontak membuat Ify kaget tak percaya.

“Vampire. Dia berkata vampire. Rio seorang vampire.” Batin Ify. Satu rahasia Rio terkuak.

“Akhirnya gue tahu rahasia loe Yo.” Ify tersenyum jahil.

“Karena Gabriel nggak mungkin bisa jaga Ify tanpa membunuh Cakka. Cuma loe yang bisa tanpa membunuh Cakka.” Kata Shilla.

Ify menutup mulutnya saat mendengar apa kata Shilla.

“Kalau Cakka bertindak diluar batas, gue nggak segan buat bunuh dia.”

“Prang!” nampan di tangan Ify terjatuh. Kini dia tahu kemana arah pembicaraan Rio dan Shilla. Semua teka-teki yang ia pikirkan sudah terpecahkan. Apa yang terjadi malam itu, bagaimana dia tak terluka sedikitpun dan sikap aneh Cakka kepadanya.

Rio dan Shilla berdiri saat mendengar ada yang terjatuh. Ify keluar dari persembunyiannya. “Apa sebegitu pentingnyakah gue? Kenapa loe, Kak Iyel dan Kak Cakka harus saling membunuh hanya karena gue? Kenapa kalian nggak bi…….” Belum sempat Ify menyelesaikan perkataannya, Rio melesat ke arahnya dan mencium bibir Ify.

Ify berusaha menjauhkan tubuh Rio dari hadapannya, tapi tenaganya menghilang. Wajah Rio di depannya semakin memudar dan gelap.

“A-apa yang loe lakukan?” Shilla berteriak melihat Ify tak sadarkan diri di pelukan Rio.

“Membungkam mulutnya. Pulanglah dan anggap hari ini tidak pernah terjadi.” kata Rio sambil menggendong Ify.

Rio menaiki tangga menuju ke kamar Ify, “Ini rahasia kita.” Tambahnya.

Rio menidurkan Ify di tempat tidurnya, menyelimutinya dan membelai rambutnya.

“Tanpa disuruhpun, gue akan lindungi loe. Bukan hanya dari Cakka, tapi dari semua orang, termasuk bangsa gue sendiri.” Kata Rio lirih. Ia duduk di pinggir ranjang Ify dan mendudukkan Ify.

“Anggap hari ini nggak terjadi apapun.” Rio memamerkan taringnya dan mulai menikmati leher indah Ify.

Selama beberapa saat mereka berada dalam posisi itu, hingga sebuah angin besar membuat jendela di kamar Ify terbuka. Di luar jendela itu, Alvin berdiri. Secepat kilat, dia berlari dan menyeret Rio menjauh dari Ify. Dilihatnya mata Rio mulai berubah warna.

“Cukup Yo. Loe bisa membunuhnya. Kendalikan hasratmu!” bentak Alvin.

Rio menatap Alvin dengan ganas, “Arrrghh!” terlihat Rio mulai kesakitan.

Tak lama, Sivia sudah berada di kamar Ify. Dengan segera ia mendekati Rio, memeluknya dan meminum darahnya.

Beberapa menit kemudian, Rio sudah tak sadarkan diri dalam pelukan Sivia. Sivia menidurkan Rio di sofa dan ia jatuh terduduk. Ia benar-benar kelelahan. Darah Rio tak seenak biasanya.

Dengan susah payah Sivia bangkit dan berjalan ke arah Ify. Ia mengangkat kepala Ify dan meminum darah Rio yang masuk ke darah Ify. Terlalu banyak darah Rio di tubuh Ify. Tubuh Ify sudah menunjukkan gejala penolakan. 
Keringat dingin sudah mengalir dan membasahi baju Ify. Wajahnya memucat dan daerah di sekitar matanya mulai menghitam.

“Telat sedikit, Ify bakal mati di tangan Rio.” Kata Sivia setelah menidurkan Ify. Ia terduduk dan bersandar di ranjang Ify. Menoleh dan menatap Alvin.

“Bisa loe berikan darah loe sedikit?” pinta Sivia ke Alvin.

“Eh?” Alvin berjalan menjauh.

“Darah Rio benar-benar tak enak hari ini.”

Alvin mendekat dan berjongkok di depan Sivia. Di irisnya pergelangan tangan miliknya dan meneteskan darahnya ke mulut Sivia. Terlihat Sivia sangat menikmatinya, ia memegang tangan Alvin dan mulai menggigitnya. Alvin hanya meringis kesakitan saat Sivia menggigitnya.

Setelah beberapa sedotan, Sivia melepaskan gigitannya dan membersihkan mulutnya, “Thanks.”

Alvin mengangguk dan membersihkan tangannya, “Apa seburuk itu darah Rio?”

“Hasrat Rio muncul tiba-tiba jadi tubuhnya memproduksi darah secara asal-asalan.”

“Dia memberi Ify darahnya tanpa ada hasrat? Buat apa?” Alvin tak habis pikir.

“Menghapus ingatan.” Sivia menatap Rio yang tengah tertidur di sofa.

Sivia bangkit dan berjalan ke arah jendela, “Bantu gue bawa pulang Rio.”

Pagi datang, seberkas cahaya masuk ke kamar Ify dan menyentuh wajahnya. Dengan berat, ia membuka matanya. Tubuhnya berkeringat dan kepalanya pusing. Ia melihat Ray berbaring di sebelah kirinya. Dia tersenyum dan menyentuh puncak kepala Ray.

Ray membuka matanya dan melihat Ify sedang tersenyum. Seketika ia melompat dan duduk di samping Ify.

“Kak Ify baik-baik saja?” tanya Ray cemas. Ify mengangguk.

Ray menyentuh kening Ify dan membandingkannya dengan keningnya, 
“Apanya yang baik-baik saja?” Ify hanya bisa tersenyum.

Ray turun dari tempat tidur, “Ray buatkan sarapan buat Kak Ify. Tunggu ya.” Dia berlari keluar dan meninggalkan Ify sendiri.

Ify bangun dan duduk bersandar. Ia memegang keningnya dan merasakan panas tubuhnya. Keringatnya benar-benar banyak, baju yang dipakainya menempel di kulitnya. Terlihat jelas semua lekukan tubuhnya. Akhirnya dengan susah payah dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi.

Kepalanya yang pusing membuat keseimbangannya terganggu, ia berjalan dengan sempoyongan dan hampir terjatuh jika Gabriel tak datang dan memegang tangannya.

“Thanks.” Ify menegakkan badannya.

Gabriel menatap wajah Ify. Pucat. Dengan segera, ia mengangkat kaki Ify dan menggendongnya.

“Kak Iyel. Aku bisa jalan sendiri.” Gabriel hanya diam dan membawa Ify masuk ke kamar mandi. Di dudukkannya Ify di bathup dan menghidupkan keran air hangat. Gabriel mengambil sabun dan menuangkannya ke bathup. Ia duduk di pinggiran bathup dan memandangi Ify.

Ify hanya tertunduk memandangi air yang mengalir. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya tapi ia yakin itu sesuatu yang gawat. Ia bisa melihat kekhawatiran yang luar biasa di wajah Gabriel dan Ray.

“Apa yang terjadi?” Gabriel membuka suara. Ify beralih memandang Gabriel dan menggeleng.

“Justru itu yang ingin gue tanyakan. Apa yang terjadi?” tanya Ify. Gantian Gabriel yang memandanginya.

“Gue nggak yakin. Yang gue tau, saat Ray manggil loe buat makan malam, tiba-tiba dia teriak dan manggil gue. Saat gue tiba di kamar loe, keadaan loe bener-bener parah.” Gabriel menatap Ify dengan iba.

“Loe nggak inget kenapa?” Ify mencoba mengingat sesuatu, namun tak lama ia menggeleng.

“Badan loe dingin sedingin es. Detak jantungmu lemah. Kita memanggil dokter dan dokter bilang loe nggak sakit dan kita dianggap bermain dengan jadwal dokter. Hampir saja gue bunuh itu dokter kalau Ray nggak ngunciin gue di kamar loe.”

“Lalu tiba-tiba badan loe berubah jadi panas. Suhunya mungkin mencapai 40o an. Benar-benar panas.”

Ify hanya terdiam mendengar penuturan Gabriel.

“Apa yang loe lakuin kemarin?” tanya Gabriel.

Ify masih diam. Air sudah menutupi tubuhnya sampai ke bawah leher. Gabriel mematikan keran dan membuka kancing baju Ify. Ify memegang tangan Gabriel, “Gue bisa sendiri.”

“Loe bener-bener nggak ingat apapun?” tanya Gabriel lagi. Ify menggeleng. Dia benar-benar tak bisa mengingat apapun.

“Apa yang loe inget tentang kemarin?” Gabriel mengganti pertanyaannya.

“Gue rasa Rio datang.” Kata Ify kemudian.

“Rio?”

“Aaah mungkin tidak.” Kata Ify lagi.

Gabriel berdiri dan menutup tirai bathup. “Jangan terlalu dipikirkan. Kesehatanmu yang utama. Gue ada di luar kalau butuh sesuatu.”
Gabriel keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya.

Rio terbangun saat mendengar kegaduhan di luar kamarnya. Ia bangkit dan duduk di ranjangnya. Dia cukup terkejut melihat Sivia berbaring di sampingnya. Rio berdiri dan berjalan keluar. Ada Alvin dan Zeze tengah bermain game di ruang tamu Rio.

Rio turun dan duduk di belakang mereka sambil menonton mereka bermain.

“Jangan curang!” Zeze menyenggol Alvin.

I’m cheater, you know.” Kata Alvin.

“Apa menyenangkan?” Rio bertanya.

“Huaaa!” serempak Alvin dan Zeze terlonjak kaget saat Rio menanyai mereka.

“Kenapa?” Rio heran dengan tingkah mereka.

“Bisa nggak loe dateng pakai suara? Jantung gue hampir copot.” Kata Alvin.

“Copotpun nggak masalah. Loe vampire.” Kata Rio santai.

Alvin dan Zeze mendekat ke Rio, “Loe udah baikan?”

Rio mengangguk.

“Kemana Sion?” tanya Rio kemudian.

“Pergi dari semalem. Ngatur para Vampire Pasif yang sekarang makin kurang ajar.” Kata Alvin sambil memulai gamenya lagi.

“Aaah gue mau tanya.” Kata Rio.

“Apa?”

“Kenapa Sivia ada di ranjang gue?”

“Karena nggak ada kamar tidur lain.”

“Kenapa nggak pulang?” Alvin menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan Rio.

“Loe pikir gara-gara siapa Sivia kayak gitu?” Rio terdiam.

“Apa yang udah gue lakuin kali ini?” tanyanya.

“Loe nggak inget?” tanya Zeze.

“Samar-samar.” Kata Rio.

“Loe hampir aja bunuh Ify.” kata Alvin. Sontak Rio turun dari sofa dan mendekati Alvin.

“A-apa maksud loe?”

Rio menundukkan wajahnya saat Alvin selesai bercerita.

“Ya gue inget sampai gue nggigit Ify. Setelah itu, gue nggak ingat apapun.”

“Mata loe berubah jadi merah waktu itu, seakan loe bisa bunuh semua vampire yang loe temuin.”

“Sebenarnya ada apa dengan gue?”

“Devil Mode.” Sivia turun dari lantai dua menuju ruang tamu. Zeze berlari dan menuntunnya turun.

“Devil Mode?” tanya Rio.

“Keadaan dimana loe kehilangan kendali atas tubuh loe. Terjadi karena kurangnya keseimbangan. Sering terjadi di Klan Royal dan Noble karena tidak adanya salah satu dari keduanya.” Jelas Sivia.

Rio, Alvin dan Zeze menampakkan ekspresi kebingungan.

“Rio adalah Royal, kekuatannya lebih tinggi dari vampire lainnya. Dalam keadaan biasa, itu bisa diseimbangkan dengan adanya Elite Knight. Tapi saat kondisi Rio melemah, kekuatannya akan menjadi tak bisa dikendalikan. 
Karena itu dia butuh seorang Noble untuk memulihkan kondisinya agar bisa mengendalikan kekuatan itu. Dan itu yang tidak kita punya.” Sivia menjelaskan panjang lebar. Rio, Alvin dan Zeze mengangguk tanda mengerti.

“Tapi ada satu hal yang ganjil disini.” Kata Sivia kemudian. Berhasil membuat Rio dan lainnya penasaran.

“Secara harfiah, darah Rio akan meningkat dua kali lipat jika ia meminum darah orang kan?” Rio dan lainnya mengangguk.

“Tapi kali ini, darah Rio bisa mencapai 5-7 kali lipat.”

“Yang bener?” Rio sendiri tak percaya.

Sivia mengangguk, “Sebenarnya, semakin banyak darah yang loe produksi, semakin kuat pula loe, jika ada Noble yang menyeimbangkannya.”

“Yang jadi pertanyaan adalah, siapa Ify hingga dia bisa membuat darah Rio meningkat pesat. Gue rasa dia bukan cuma sekedar manusia biasa.”

Mereka berempat terdiam, memikirkan hal yang mungkin sebenarmya terjadi.

***

Destined Couple -Chapter 2-

Sivia membuka matanya saat pipinya disentuh seseorang. Dengan susah payah, Sivia bangkit dan duduk di pinggir ranjang Rio. Terlihat wajahnya pucat bola matanya berubah menjadi hijau.

“Zeze.” Kata Sivia lirih.

Zevana Thaliel. Vampire murni dari Kanada. Mahasiswi Musik Kontemporer jurusan Bass. Terkuat dari jenisnya, Vampire Vegetarian. Seorang vampire yang hanya meminum darah hewan, bukan darah manusia. Vampire Vegetarian memiliki daya penyembuhan yang terbaik dari Knight Vampire lainnya.

Zeze mengiris pergelangan tangannya dan menempelkannya di mulut Sivia. Sivia memegang tangan Zeze dan mulai menggigitnya. Berangsur-angsur wajah Sivia kembali memerah dan segar. Setelah dirasa cukup, Sivia melepas gigitannya dan memandang Zeze. Matanya kini kembali berubah warna kebiru-biruan, warna asli mata Sivia.

“Bisakah kau berikan sedikit untuk Rio?” pinta Sivia.

Zeze menggeleng, “Hanya Noble Vampire yang bisa memulihkannya.”

Sivia menundukkan kepalanya, “Kita tak punya keturunan Noble setelah Dera menghilang. 
Apa kau tak bisa mengusahakannya?”

“Darah Vampire Vegetarian tak cukup kuat untuk memulihkannya Vi. Harusnya loe udah tau itu.”

“Lalu gue harus ngapain Ze? Apa yang harus gue lakukan?” Air mata Sivia tak terbendung.

“Kita hanya harus melindunginya sebisa kita. Karena itu tugas kita.” Sivia menatap Zeze.

“Gue akan panggil Sion balik ke sini. Mulai sekarang, kita semua akan melindungi Rio.” Zeze keluar dari kamar Rio.

Sion Stevaza. 18 tahun –145 tahun–. Mahasiswa tahun pertama jurusan Ekonomi Makro. Vampire terkuat dari Vampire Pasif.

 “Kriiiing kriiiiing kriiiiiing!”

“Aaaaah berisik!” Teriak Ify.

“Kriiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing!”  Tak ayal suara jam beker di sebelah kirinya membuat Ify terbangun. Dia meraih jam beker itu dan mematikannya. Setelah hening sesaat, Ify membuka mata dan melihat jam di depannya, 08.06 WIB. Alarmnya diganti seseorang.

“Ray!” teriaknya.

“Apa?” Ray berdiri di depan pintu kamar Ify.

Raynald Krisnadinata, 15 tahun. Kelas 1 SMA. Adik dari Gabriel. Pintar beladiri dan main musik. Ray sangat menyayangi Gabriel walau Gabriel tak pernah menunjukkan sayang kepadanya.

“Siapa yang ganti alarm gue. Perasaan gue pasang jam 4 pagi, kenapa ini jam 8?”

Ray mengangkat bahunya, “Mandi dulu sono. Ray tunggu di ruang makan.”

Ify berjalan ke kamar mandi. Dibuka baju tidurnya dan dipandangi wajahnya di kaca. Tiba-tiba terlintas dalam ingatannya tentang kejadian tadi malam. Dengan segera dia meneliti bahu kirinya, bersih tak ada luka apapun.

“Apa cuma mimpi?” tanyanya kepada bayangannya di cermin.

Dua puluh menit kemudian, Ify sudah melenggang keluar dari kamarnya.

“Selamat pa……gi.” Langkahnya terhenti sebelum sempat mendekati meja makan. Ia menatap Gabriel yang tengah duduk menikmati sarapannya.

“Kenapa?” tanya Ray. Gabriel menoleh dan menatap Ify. Sejenak kemudian, ia berdiri dan berjalan ke arahnya.

“Diam dan makanlah!” Katanya sambil berlalu.

Ify mencium bau darah di tubuh Gabriel. Bukan hanya setitik, tapi seluruh tubuhnya.
Hampir seperti dia baru saja membunuh puluhan orang.

Ify duduk dan mengoles sehelai roti dengan selai kacang. Pikirannya masih tentang Gabriel. Dia bertanya-tanya apa Killer Syndrome nya muncul.

“Kak! Kak Ify!” teriakan Ray menyadarkan Ify dari lamunannya.

“Aaah ya.” Ify menatap Ray yang duduk di depannya.

“Besok ada pertemuan wali murid, Kak Ify datang ya?” pinta Ray.

Ify mengambil selai blueberry dan mengoleskannya di roti lain, “Kak Iyel nggak mau dateng?”

Ray menggeleng, “Sepertinya dia lagi bad mood sejak pulang tadi.”

Ify menyatukan dua helai roti berselai kacang dan blueberry itu sambil menatap heran Ray, “Dia baru pulang tadi?”

Ray meneguk susunya dan mengangguk, “Dia pergi dari tadi malam setelah Kak Rio pulang.”

Ify berhenti mengunyah rotinya dan bertanya, “Rio kesini?”

“Heem, Kak Rio nganter Kak Ify pulang setelah Kak Ify ditabrak orang.” Kata Ray sambil beranjak dari kursinya.

“Ditabrak?” tanya Ify.

Ray kembali duduk di depannya, “Iya kakakku yang cantik. Tadi malem Kak Ify pulang dianter Kak Rio dengan berlumuran darah. Kak Rio bilang Kak Ify jadi korban tabrak lari, untungnya darah itu bukan darah Kak Ify. Kak Ify cuma pingsan gara-gara shock. Puas?”
Mata Ify terbelalak mendengar penuturan Ray. Dia benar-benar bingung apa yang terjadi.

“Ray mau latihan band. Daa.” Ray mengambil ranselnya dan berjalan ke luar rumah.

Ify masih terpaku di meja makan dengan segala pertanyaan. Dia meletakkan roti di tangannya dan membuka bajunya. Bahunya baik-baik saja.

“Oh ya!” Suara Ray mengagetkannya. Ify menoleh dan mendapati kepala Ray menyembul dari balik pintu.

“Jangan menyembunyikan payudaramu dengan membalutnya, itu bisa mengganggu pernapasanmu.” Kata Ray sambil mengedipkan matanya.

Refleks Ify menatap dadanya dan bergidik ngeri, “Ray!!!!!

Rio membuka mata dan mendapati dirinya tengah berbaring di apartmentnya. Dia bangun dan duduk di tempat tidurnya. Kepalanya masih terasa berputar. Dia berjalan ke luar kamar, dan mendapati ada Sivia tengah duduk sambil membaca majalah di ruang tamu.

“Loe disini.” Sapa Rio. Sivia menoleh dan tersenyum.

“Udah baikan?”

Rio menuruni tangga menuju ruang tamu, “Lebih baik.”

“Jangan keluyuran tanpa sepengetahuan gue.” Kata Sivia tanpa melepaskan pandangannya dari majalah di depannya.

“Vi, gue bukan anak kecil lagi.” Rio duduk di samping Sivia.

“Jangan lakukan hal itu lagi.” Kata Sivia lagi. Kali ini Rio hanya terdiam.

“Dia hampir mati.” Kata Rio kemudian.

“Itu bukan urusan kita.” Sahut Sivia.

“Maaf tapi itu jadi urusan gue kalau menyangkut nyawa Ify.” Rio sedikit meninggikan nada suaranya, membuat Sivia berhenti dari kegiatannya dan memandangi Rio.

Sivia meletakkan majalahnya dan, “Plak!” sebuah tamparan melayang ke pipi Rio.

Rio memegang pipinya dan menatap Sivia yang kini tengah berkaca-kaca.

“Tugas gue nglindungi loe. Loe adalah harapan bangsa vampire Yo. Kalau loe melemah, nggak ada yang bisa pulihin loe. You’re our King! You must know it!

Sivia berdiri dan menghapus air matanya, “Walau rasanya menjijikkan, gue udah bersihin darah Ify dari darah loe. Walaupun gue nggak yakin nggak ada yang tertinggal.”

Sivia berjalan keluar, “Mulai sekarang, Elite Knight akan menjagamu.

Fukakute atsui itoshisa. Au tabi ni tsumoru no. Shiroi hane no youni …..” Dendangnya di dalam mobil sembari menunggu lampu hijau menyala.

“Tok tok tok!” Kaca jendela mobilnya di ketuk oleh seorang penjaja koran.

“Koran mbak?” tawarnya.

“Satu pak. Sekalian majalah ini juga.” Kata Ify. Penjaja koran itu menyerahkannya 1 eksemplar koran dan 1 majalah kepadanya.

“Ini.” Ify mengulurkan 1 lembar 50ribuan.

“Kembaliannya mbak.” Katanya.

“Ambil aja Pak.” Kata Ify sambil tersenyum.

“Terimakasih mbak.”

“Sama-sama Pak.” Ia menutup jendela mobilnya dan melajukan kembali mobilnya.

“Silakan langsung masuk saja mbak, soalnya nggak antri.” Kata seorang laki-laki dari luar jendela mobilnya. Ify mengangguk. Diambilnya majalah yang baru saja dia beli dan membaca sembari menunggu mobilnya dicuci.

“Alliando dan Prilly mengaku masih berteman.” Katanya sambil membaca berita di majalah.

“Aiiissh, udah basi. Semua orang juga tau keles.” Komentarnya.

Dia meletakkan majalah itu dan mengambil koran di sampingnya.

“Ribet baca koran di mobil.” Katanya sembari membuka lembaran koran tersebut.

Semua masih sama, hingga sebuah berita berhasil mencuri perhatiannya, “Calon Presiden beserta puluhan bodyguard ditemukan meninggal secara menggenaskan di kediamannya.”

Deg. Jantungnya serasa berhenti. Semakin banyak pertanyaan di kepalanya. Ify ambil ponselnya, dan menelpon seseorang.

“Hallo.”

“Kita perlu bicara. Gue tunggu di Jewel Park.” Kata Ify.

“Oke.”

20 menit kemudian, mobil Ify telah selesai dicuci. Begitu keluar dari mesin pencuci mobil, dia langsung tancap gas ke Jewel Park.

Ify memarkirkan mobilnya di pelataran parkir Jewel Park. Dengan berjalan setengah berlari dia menuju ke dalam area taman. Di dekat air mancur sebagai pusat taman, terlihat Gabriel tengah berjongkok dan mengelus manja seorang gadis kecil di depannya.

“Kau mengerti?” tanya Gabriel dengan lembut.

“Heem.” Gadis kecil di depannya mengangguk.

“Sekarang kembalilah ke teman-temanmu dan minta maaf.” Katanya sambil tersenyum. Gadis kecil itu mengecup pipi Gabriel dan berlari menjauh.

“Bisakah loe tunjukin sifat itu ke gue dan Ray?” tanya Ify kemudian.

Gabriel menoleh dan berdiri saat melihat Ify ada di belakangnya.

“Loe tau itu nggak mungkin.” Katanya sambil duduk di pinggiran kolam. Ify mengikutinya dan duduk di samping Gabriel.

“Gue yakin loe bisa mengendalikannya. Gabriel yang gue kenal bisa mengendalikan diri.” Gabriel memandang Ify dengan lekat.

“Gue nggak mau kejadian itu terulang lagi.” Katanya sambil menerawang jauh ke depan.

“Gue bisa jaga diri, meskipun loe yang gue hadapi.”

“Begini lebih baik. Ini keputusan gue.”

Mereka terdiam sesaat, sampai Gabriel mulai bertanya, “Apa yang mau loe bicarain?”

“Jangan ikut campur dengan kerjaan gue.” Gabriel menatap Ify.

“Lebih baik gue mati daripada loe harus bunuh orang lain.”

“Kalaupun gue nggak punya Killer Syndrome, gue tetep nglakuin ini.” Gabriel berdiri dan berjalan menjauh.

“Kak Iyel! Kak Iyel! Gabriel! Gabriel kembali!!!” teriak Ify.

“Isssh!” Umpatnya sepanjang perjalanan menuju ke tempat parkir. Ify masuk ke mobil dan mulai melamunkan semua hal yang terjadi.

Matahari sudah terbenam, Rio keluar dari apartmentnya dan mencari keberadaan Ify. Ia menemukan Ify tengah melamun di dalam mobilnya.

“Drrrt drrrt drrrt!” ponsel Ify bergetar. Ify mengambil dan melihat siapa yang menelpon.

“Hallo Yo.”

“Loe nggak pengap di dalam mobil mulu?” tanya Rio.

“Hah?!” Ify mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rio.

“Cepet keluar sebelum loe sesak napas. Apalagi dengan balutan tebel di dada loe.” Refleks Ify menutup dadanya dengan tangannya.

“Mesum!” umpatnya.

“Hahaha. Maaf gue nggak sengaja.”

“Hiya Rio!! Diam atau gue sumpel mulut loe pakai ban mobil!” teriak Ify.

“Iye iye. Cepet keluar!” suruh Rio.

Ify terdiam dan membuka bajunya. Dia melepas balutan yang membalut dadanya. Setelah selesai, dia keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Rio yang tengah melambaikan tangannya.

“Loe dari mana?” tanya Rio ketika Ify sampai di hadapannya.

“Cuci mobil, terus jalan sama Kak Iyel.”

“Loe baik-baik aja kan?” tanyanya.

“Aaah ya gue mau tanya.” Kata Ify. Rio menatapnya.

“Sebenernya apa yang terjadi tadi malam?”

“Tadi malam?” Ify mengangguk.

“Oooh yang gue nganter loe pulang?” tanya Rio memastikan. Sekali lagi Ify mengangguk.

“Ray nggak cerita?”

“Cerita. Tapi ada yang mau gue tanyakan ke loe.”

“Apa?” Ify terdiam sesaat.

“Gimana loe bisa nganter gue pulang? Perasaan kita nggak ketemu.” Rio berpikir sejenak mendengar pertanyaan Ify.

“Kemarin pas gue mau pulang, di jalan deket rumah gue banyak orang lagi berkerumun. Terus gue mendekat dan gue denger ada tabrak lari. Pas gue liat ternyata itu loe. Ya langsung gue bawa.” Jelas Rio.

Ify terlihat belum puas dengan jawaban itu. “Apa gue terluka?”

Rio terdiam, “Seperti yang loe liat, nggak ada luka yang berarti.”

“Loe yakin itu nggak ada satupun?” Rio mengernyitkan alisnya.

“Heem, udah gue cek, tapi nggak ada luka apapun.”

“Cek?” Ify agak menjauh dari Rio.

“Gu-gue cuma memastikan. Nggak niat mau liat.” Jelas Rio.

Ify memasang bibir manyunnya.

“Aiiiish, jeleknya.” Rio mencubit bibir manyun Ify.

Ify tersentak saat tangan Rio mencubit bibirnya. Dia merasakan tangan Rio hangat. Dia memegang tangan Rio untuk memastikan, dan itu benar-benar hangat. Ify menatap Rio. Disentuhnya kening Rio dan membandingkan dengan keningnya sendiri.

“Ini normal tapi aneh.”

Rio yang sedari tadi diam, tiba-tiba melangkah ke belakang.

“Aaah maaf. Apa gue bertindak aneh?” tanya Ify melihat gerakan mendadak Rio.

Rio mengangguk sambil bergidik ngeri. “Pertama, loe megang tangan gue. Kedua, loe natap gue. Ketiga, loe megang kening gue. Dan keempat, loe nglepas balutannya.” Tunjuk Rio. Ify mengikuti arah dimana telunjuk Rio mengarah. Spontan dia membalikkan badan dan menutupi dadanya.

“Dasar mesum!” umpatnya.

Ify membalikkan badannya kembali, “Biasanya tangan loe dingin banget, hampir sedingin es mungkin. Tapi sekarang kok hangat sih. Loe sakit?” Dengan cepat Rio menggeleng.

“Mungkin cuma perasaan gue aja.” Kata Ify.

Tiba-tiba Rio merasakan keberadaan beberapa vampire disekitarnya. Ia bisa merasakan ada Alvin dan Zeze.

“Zeze?” Rio kaget dengan keberadaan Zeze yang Rio tahu sedang berada di Swiss.

Tiba-tiba dia teringat kata Sivia tentang Elite Knight yang akan menjaganya.

Tak lama, beberapa hawa pemburu vampire mendekat. Rio memejamkan mata. Ada Patton, Bagas dan Chelsea, Tiga Elite Werewolf. Rio tahu kalau dua kubu menemukannya sedang bersama Ify. Maka dia tak mungkin bertemu dengan Ify lagi.

Rio memegang tangan Ify dan menariknya ke mobil Rio. Tak lama kemudian, mereka sudah berjalan menyusuri jalanan yang sepi karena malam. Beberapa menit kemudian, Rio memarkir mobilnya di sebuah kawasan Diamond Palace, sebuah apartment mewah.

“Ngapain kita disini?” tanyanya.

“Apartment gue.”

“Eeeh? Loe tinggal disini?” tanya Ify tak percaya.

Rio turun dan mengunci mobilnya. Ify mengikuti langkah panjang Rio dari belakang. Rio lebih tinggi 20cm darinya. Rio lebih kurus darinya, tapi tubuhnya benar-benar atletis. 
Ototnya padat dan terlatih. Wow. Satu kata yang bisa Ify pikirkan.

Tak satu katapun keluar dari mulut mereka selama perjalanan dari Basement hingga lantai 10. Ify mengikuti Rio keluar dari lift dan berjalan di koridor. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan dua orang laki-laki berpakaian hitam. Dua orang yang Ify kenal dengan baik. Ify berjalan mendekati Rio dan menggenggam baju belakangnya. Rio menatap Ify lalu melanjutkan perjalanannya.

Setelah dua orang tadi berlalu, Rio menyeret Ify agar dia berjalan di depannya. Rio berhenti di depan pintu apartment 1004. Ia memasukkan password dan membukakan pintu untuk Ify.

“Masuklah! Gue ada urusan sebentar! Apapun yang terjadi, jangan buka pintu!” kata Rio. Rio menutup pintu dan berlari keluar. Ify melepas sepatunya dan berjalan ke dalam.

“Dia disini.” Kata Ify lirih. Rasa takut terpancar jelas dimatanya, tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai membahasi tubuhnya. Ify duduk di ruang tamu dan menenangkan diri.

Beberapa menit kemudian, Ify mulai tenang dan mengamati apartment Rio. Apartment mewah sekelas apartment milik Do Min Joo dalam drama korea “My Love From Another Star”. Sebuah apartment dua lantai lengkap dengan dapur, ruang makan, kamar tidur, sebuah taman kecil dan sebuah ruang kerja. Ify mulai berkhayal bahwa Rio adalah alien yang sudah hidup lebih dari 400 tahun.

Sebuah lemari es berhasil menggodanya. Ify baru ingat kalau dia belum makan siang ataupun makan malam. Dia membukanya dan mendapati banyak bahan makanan segar. Karena rasa laparnya sudah tidak tertahankan lagi, Ify mulai mengambil beberapa bahan makanan dan sibuk membuat pasta di dapur Rio.

Rio menyusuri jalanan sepi di belakang apartmentnya setelah meninggalkan Ify di sana. Rasa takut Ify saat berjalan di koridor membuat volume darahnya meningkat. Kakinya tak bisa menopangnya dengan tegak. Rasanya darah akan segera keluar dari mulut atau hidungnya.

“Gue butuh mangsa.” Rio melompat dan berdiri di atas sebuah pohon. Melihat ke kanan dan kiri mencari orang yang sedang ketakutan.

“Dapat.” Dia melesat turun dari pohon dan berlari.

Di tengah perjalanan Rio berhenti. Tubuhnya tak bisa lagi mendukung untuk berlari. Kepalanya pusing dan perutnya mulai mual. Tak sanggup lagi berdiri, dia terjatuh. Rio berusaha bangkit, namun tiba-tiba darah keluar dari hidungnya. Dengan segera ia menutup hidungnya dan dengan tenaga terakhirnya, dia memanggil Sivia.

“Aaarrrrgggh!” rasa sakit tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Nona, ini data yang Anda minta.” Sivia mengambil amplop coklat di depannya.

Dia membuka amplop itu dan membaca isinya. Itu adalah informasi tentang sebuah mafia bernama “Werewolf”. Nama itu mengingatkan pada musuh abadi bangsa vampire, manusia serigala.

Werewolf juga bisa disebut sebagai musuh bangsa vampire karena itu adalah organisasi pemburu vampire. Sivia hanya mempunyai lima nama Elite Werewolf, Cakka, Shilla, Patton, Bagas dan Chelsea. Hanya mereka berlima yang pernah berhadapan langsung dengannya. Hanya itu informasi yang bisa Sivia dapat. Werewolf terkenal dengan kerahasiaan informasi internal mereka. Bahkan teknologi vampire tak bisa menembusnya.

“Huft!” Sivia tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya.

“Nggak ada kemajuan.” Sivia berdiri dan berjalan ke tempat tidur. Dia menghempaskan badannya dan membenamkan wajahnya ke bawah bantal.

“Sivia!” Suara Rio mengagetkannya. Sivia segera berlari ke balkon dan mencari keberadaan Rio. Ia mencium bau darah Rio.

“Sion!” Sivia memanggil Sion dan pergi mencari Rio.

“Ting tong!” Bel pintu berbunyi sesaat setelah Ify selesai menata meja makan. Dia melepaskan celemeknya dan berlarian ke pintu.

“Loe lama banget, dari……..ma……na” Ify terpaku melihat Cakka berdiri di depannya. 
Seketika Ify teringat pesan Rio untuk tidak membukakan pintu. Harusnya dia tidak membuka pintu itu.

Ify berjalan mundur dengan gemetar,”Ba-ba-bagaimana bisa?”

“Ka-kak!” Ify jatuh terduduk. Cakka masih berdiri tanpa gerakan. Dia hanya menatap Ify. Tatapan yang berhasil membuat Ify bergetar tanpa energi.

Cakka mendekat dan berlutut di depan Ify. Sejurus kemudian, ia menarik tangan Ify dengan paksa dan menyeretnya. Membawanya menaiki lift dan masuk ke sebuah apartment, melemparkannya ke tempat tidur.

“Bagaimana loe masih hidup?” Kata pertama yang diucapkannya berhasil membuat Ify bingung.

“A-apa maksudnya?”

Cakka berdiri di depan Ify dan mendorongnya ke belakang hingga Ify dalam posisi terlentang di tempat tidur dan Cakka berada di atasnya.

“Gue yakin loe tertembak tepat di jantung loe.”

“A-apa maksud kakak? Aku sama sekali nggak ngerti.”

Cakka mendekatkan wajahnya ke arah Ify. Refleks Ify memejamkan mata dan memalingkan wajahnya.

“Lukamu baik-baik saja?” nada bicara Cakka berubah melembut.

Tangan Cakka mulai meraba kancing baju Ify. Dengan sigap Ify menghentikan gerakan tangan Cakka dan menatap mata Cakka, “Gue baik-baik saja.”

Dihempaskannya tangan Ify dan berdiri berjalan menjauh.

Ify berdiri dan mengikutinya, “Kakak.” Katanya pelan.

“Boss!” katanya.

“Boss.” Kata Ify pasrah.

Cakka Fiotama, 21 tahun. Kakak kandung Ify. Pemimpin mafia “Werewolf” sekaligus boss Ify. Cakka sama sekali tak menganggap Ify sebagai adiknya, lebih seperti bawahan atau perempuan mainannya. Werewolf adalah organisasi yang berisi para pemburu vampire, hanya Ify yang tidak mengetahui fakta ini. Cakka mempertahankan Ify di Werewolf adalah untuk membunuhnya. Tak ada yang tahu apa alasan Cakka ingin membunuh Ify. Hanya Cakka yang mengetahui kebenarannya.

“Lain kali lakukan dengan benar, walau nyawa taruhannya.” Cakka berjalan keluar. Setelah keadaan hening, Ify jatuh terduduk dan menangis.

“Rio!” teriak Sivia saat melihat Rio sudah terkapar di tanah.

“Alvin, Zeze datanglah!” batin Sivia.

Sivia duduk di samping Rio dan mengangkat kepala Rio kepangkuannya. Sivia mengeluarkan taringnya dan menggigit Rio.

“Arrrgggh!” Bisa ia dengar teriakan Rio tepat di telinganya. Sedikit demi sedikit Sivia mulai meminum darahnya.

Beberapa menit kemudian, Sivia melepaskan gigitannya dan membersihkan mulutnya, 

“Sudah lebih baik?”

Rio tersenyum, “Sedikit.”

Alvin dan Zeze tiba. Mereka terkejut dengan apa yang terjadi dengan Rio.

“Gue udah nggak bisa lebih dari ini Ze.” Sivia mulai meneteskan air matanya. Secepat kilat, Sion dan Alvin pergi untuk mencari Vampire Kanibal lain. Zeze duduk dan menenangkan Sivia.

“Aaarrrgghh!” Sekali lagi Rio berteriak.

“Ify! Gue mau Ify!” kata Rio lirih. Sivia terkejut. Sivia tahu selama ini Rio sama sekali tak tertarik dengan Ify. Justru ketakutan Ify lah yang menyebabkan darahnya meningkat. Jika Sivia membiarkan Rio menemui Ify, sudah pasti Ify akan mati karena hasrat Rio tidak akan bisa terpenuhi dan dia akan terus memberikan darahnya ke Ify.

Sivia menatap Rio dan mendapati mata Rio berubah merah. Ini bukan Rio. Sivia memeluk Rio dengan erat, “Jangan Yo! Jangan Ify!”

“Ify!” kata Rio lagi. Sivia semakin mempererat pelukannya untuk menghentikan pergerakan Rio, hingga…..

“Aarrrgggh!” Rio berteriak seiring dengan darah segar mengalir dari hidung, mulut, mata dan telinganya. Tak lama kemudian, darah juga keluar dari pori-pori tubuhnya. Kemeja putihnya kini berubah warna menjadi merah. Sivia hanya bisa memeluk dan menangis mengiringi teriakan Rio.

Alvin datang dengan Dayat, Deva dan Angel di sampingnya. Melihat apa yang terjadi pada Rio, mereka tahu kalau mereka terlambat.

Lima menit berlalu, teriakan Rio tak lagi terdengar. Dia mulai tenang dalam pelukan Sivia. Sivia pun mulai kelelahan setelah menggunakan seluruh tenaganya. Dia mengendorkan pelukannya dan menidurkan Rio.

Zeze mengiris pergelangan tangannya lagi dan menyodorkannya ke Sivia. Dia menggigit tangan Zeze dan meminum darahnya.

“Jangan dekati Ify Yo. Dia bisa bawa loe ke kematian abadi.” Rio hanya terdiam.

“Biar gue yang ambil baju.” Sion menawarkan diri.

“Jangan ke apartment. Ada Ify disana.” Sion mengangguk dan beranjak pergi.

Sunyi dan senyap. Hanya ada gonggongan anjing terdengar dari kejauhan. Rio masih bisa merasakan taring dingin Sivia di lehernya. Dia masih ingat bagaimana dia sangat menginginkan Ify tadi. Alvin, Zeze dan Sivia hanya diam memandangi Rio yang masih terbaring. Merasa dirinya dipandangi, dia duduk dan menatap ketiganya.

“Maaf merepotkan kalian.”

It’s okay. That’s Rio we know.” Kata Alvin.

“Meski berat, it’s our duty.” Kata Zeze.

“Lagian loe kayak gini juga karena kelalaian kita.” Sivia membuka suara.

Sion datang dan bergabung dengan mereka berempat, membahas adanya Noble Vampire. Mengumpulkan informasi dimana Dera berada setelah 50 tahun menghilang.

“Awalnya gue pikir, Via atau Zeze yang bakal mendampingi Rio. Makanya kita santai-santai tak mencari keberadaan Dera.” Sion mengeluarkan pendapatnya.

“Sekarang kita harus mencari keberadaan Dera dan menjaga Rio.” kata Alvin.

“Gue rasa kita bisa berbagi tugas. Sion dan Alvin bisa mencari Dera. Penglihatan Sion dan 
kecepatan Alvin bisa menjadi kombinasi yang bagus. Gue bakal nemenin Via di sini buat jaga Rio.” Usul Zeze diikuti anggukan dari Alvin, Sion dan Sivia.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Rio setelah selesai berganti baju dan bergabung dengan mereka berempat.

“Nggak ada.” Kata Sivia sambil mengulurkan tangan untuk menerima baju Rio yang berlumuran darah.

“Istirahatlah!” suruh Sivia. Rio mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berempat.

Ify masih terduduk di pojok apartment. Air matanya sudah kering. Tak ada lagi yang bisa diteteskan. Dia berdiri dan merapikan bajunya. Merapikan tempat tidur yang kusut karena kelakuannya dan Cakka.

Ify berjalan ke arah pintu dan sadar bahwa dia tak memakai sepatu saat diseret Cakka. Ify keluar dengan kaki telanjang dan berjalan menuju ke lift. Dipencetnya tombol 10 dan menungggu lift bergerak.

Rio kembali ke apartmentnya. Masuk dan melihat sepatu Ify tak tertata di depan pintu. Dia rapikan sepatu Ify dan berjalan masuk. Ada dua set makanan di ruang makan dan sebuah celemek menggantung di salah satu kursinya.

“Ify!” Rio mencari keberadaan Ify, tapi dia tak menemukan hawa keberadaan Ify di apartmentnya. Tiba-tiba, mata Rio berkunang-kunang dan kepalanya pusing. Samar-samar ia merasakan keberadaan Ify di depan pintu. Dengan segera, ia berlari dan membuka pintu. Ada Ify berdiri di sana.

“Ify.” Rio menghampiri Ify dan memeluknya. Ify yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya pasrah menerima pelukan Rio. Darah. Ify mencium bau darah yang sangat banyak di tubuh Rio.

Tiba-tiba badan Rio melemas dan dia terjatuh di depan Ify, “Yo! Rio! Loe kenapa? Yo bangun!”

Seorang laki-laki dan perempuan sudah berdiri di belakang Ify tanpa Ify ketahui kapan mereka datang. Mereka membawa Rio masuk dan menidurkannya di tempat tidur.

“Kalian siapa?” tanya Ify.

Perempuan di sebelah Rio berdiri dan mendekati Ify. Dia mengulurkan tangannya, “Sivia.”
Ify menerima uluran tangan Sivia, “Ify.”

“Gue Alvin.” Laki-laki yang membawa Rio masuk melambaikan tangannya ke arahnya.

Sivia mengambil handuk dan duduk di pinggir ranjang Rio. Ia mengelap keringat Rio dan membuka bajunya.

“Hei apa yang loe lakuin!” Refleks Ify berteriak hingga membuat gerakan Sivia terhenti. 
Sivia menoleh kepada Ify. Dengan tenang dia berkata, “Merawatnya, mengganti bajunya, menemaninya.”

Ify kaget mendengar jawaban frontal Sivia. Alvin mendekatinya dan tertawa, “Jangan khawatir. Sivia itu saudara kembar Rio.”

Ify menatap Alvin dan menghela napas lega, “Gue anter pulang.” Kata Alvin kemudian.

“Vin.” Sivia memanggil Alvin tanpa menghentikan kegiatannya mengelap badan Rio. Alvin menoleh.

“Jangan berbuat ceroboh!”

Alvin tersenyum, “Diusahakan.”

Alvin dan Ify keluar dari apartment Rio, meninggalkan Sivia dan Rio berdua.

“Gue tahu ini bakal terjadi.  Darah loe bukan hanya dua kali lipat. Mungkin mencapai lima kali lipat.” Sivia melepas kemeja Rio dan mengelap keringat di tubuhnya.

“Dan ini terjadi hanya karena Ify. Siapa sebenarnya dia?”

Ify mengikuti langkah Alvin. Alvin 15cm lebih tinggi darinya. Tubuhnya lebih berisi dari tubuh Rio. Kulitnya putih bersih. Wajahnya oriental dan menawan. Sivia, saudara kembar Rio yang cantik dan manis, kulitnya langsat. Rambutnya lurus sepinggang. Tingginya tak lebih tinggi darinya tapi dia lebih chubby darinya. Hari ini Ify sudah dibuat ternganga 
dengan apartment Rio dan orang-orang di sekitar Rio.

Ify duduk di kursi penumpang sementara Alvin tengah menyetir. Ify sedang mengagumi mobil yang ditumpanginya. Sama mewahnya dengan mobil Rio.

“Loe punya bau yang sama dengan Rio.” Celoteh Alvin tiba-tiba.

“Bagaimana baunya?” Ify sedikit tertarik saat Alvin berbicara tentang bau disaat penciumannya tajam jika berhubungan dengan darah.

“Darah.” Jawabnya singkat. Ify menyadari bahwa mereka berpikiran sama tentang darah.

“Mungkin karena tadi gue meluk Rio jadi bau Rio tertempel di badan gue.” Alvin tersenyum.

“Karena itu juga gue nggak bisa nyentuh loe.” Ify menatap Alvin dengan heran sedangkan Alvin hanya tersenyum.

Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Ify, “Ini rumah loe kan?”

Ify mengangguk, “Apa Rio akan baik-baik saja?”

“Ya, dia…..hanya kecapekan.” Jawab Alvin. Ify mengangguk dan menatap Alvin.

“Loe nggak turun?” tanya Alvin kemudian.

“Bisa loe anter gue ke Jewel Park.” Pinta Ify.

“Hah? Buat apa?”

“Gue baru inget kalau mobil gue masih terparkir di sana.” Jawab Ify santai.
Alvin menggelengkan kepalanya sambil berdecak dan mulai melajukan mobilnya, “Thanks Vin.”

“Apa mobil loe?” tanya Alvin sesampainya mereka di pelataran parkir Jewel Park.

“Jaguar.” Ify mengamati keadaan sekitar dan hanya kegelapan yang ia temui.

“Aah mungkinkah itu? Jaguar biru metalic?” tanya Alvin sambil menunjuk ke suatu tempat.

“Ya.” Jawab Ify mengikuti arah yang ditunjuk Alvin. Namun hanya hitam pekat yang terlihat. Tak ada siluet yang menunjukkan ada mobil di sana. Ify menatap Alvin dengan kagum. Penglihatannya sama hebatnya dengan Rio yang bisa menemukannya dari jarak yang jauh.

“Sini biar gue yang ambil. Kayaknya loe parkir terlalu mepet.” Tawarnya. Ify menyerahkan kunci mobilnya.

“Aiiiisssh, karena Rio sudah menandai darahnya, gue nggak bisa nyicipin.” Gerutu Alvin sepanjang perjalanan menuju ke mobil Ify.

Alvin masuk ke mobil Ify dan menyalakan lampu. Dia meoleh ke belakang untuk mencari cara keluar dari barisan parkir. Tanpa sengaja dilihatnya sebuah tas di kursi penumpang. Alvin mencium ada bau darah keluar dari sana. Karena penasaran, dia mengambil tas itu dan membukanya. Ada pistol, granat, beberapa alat pelacak dan jaket berbau darah.
Alvin mengambil jaket itu dan mencium darah itu, “Bukannya ini darah Ify? Rasanya gue kenal sama bau ini.” Alvin memejamkan matanya dan mulai mengingat.

“Aaaah gue lupa dimana. Rasanya udah lama banget.” Alvin mengamati jaket itu dan meihat sebuah lubang di bagian depan jaket itu. Dia memasangkan jaket itu di depan badannya untuk mencocokkannya. Tepat di jantungnya. Alvin turun dan melemparkan kunci mobil Ify, “Hati-hati di jalan.

Ify masuk ke mobilnya dan melihat jaket merahnya ada di kursi sampingnya. Dia menoleh ke belakang dan tasnya sudah dibongkar.

“Alvin.” Gerutu Ify. Dia merapikan tasnya dan mengambil jaket di sampingnya. Gerakannya terhenti saat melihat jaket kesayangannya berlubang. Dia mengamati lubang itu dan mendapati bercak darah di sana. Ada dua lubang. Satu di bahu kiri dan satu lagi, tepat di jantungnya. Seketika Ify teringat kata-kata Cakka tentang tertembak di jantung.

“Itu gue?” tanya Ify pada dirinya sendiri. Ia membuka bajunya dan mengecek dada serta bahunya. Benar-benar tak ada bekas apapun. Satu hari yang penuh misteri.

***