Sabtu, 18 April 2015

Destined Couple -Chapter 2-

Sivia membuka matanya saat pipinya disentuh seseorang. Dengan susah payah, Sivia bangkit dan duduk di pinggir ranjang Rio. Terlihat wajahnya pucat bola matanya berubah menjadi hijau.

“Zeze.” Kata Sivia lirih.

Zevana Thaliel. Vampire murni dari Kanada. Mahasiswi Musik Kontemporer jurusan Bass. Terkuat dari jenisnya, Vampire Vegetarian. Seorang vampire yang hanya meminum darah hewan, bukan darah manusia. Vampire Vegetarian memiliki daya penyembuhan yang terbaik dari Knight Vampire lainnya.

Zeze mengiris pergelangan tangannya dan menempelkannya di mulut Sivia. Sivia memegang tangan Zeze dan mulai menggigitnya. Berangsur-angsur wajah Sivia kembali memerah dan segar. Setelah dirasa cukup, Sivia melepas gigitannya dan memandang Zeze. Matanya kini kembali berubah warna kebiru-biruan, warna asli mata Sivia.

“Bisakah kau berikan sedikit untuk Rio?” pinta Sivia.

Zeze menggeleng, “Hanya Noble Vampire yang bisa memulihkannya.”

Sivia menundukkan kepalanya, “Kita tak punya keturunan Noble setelah Dera menghilang. 
Apa kau tak bisa mengusahakannya?”

“Darah Vampire Vegetarian tak cukup kuat untuk memulihkannya Vi. Harusnya loe udah tau itu.”

“Lalu gue harus ngapain Ze? Apa yang harus gue lakukan?” Air mata Sivia tak terbendung.

“Kita hanya harus melindunginya sebisa kita. Karena itu tugas kita.” Sivia menatap Zeze.

“Gue akan panggil Sion balik ke sini. Mulai sekarang, kita semua akan melindungi Rio.” Zeze keluar dari kamar Rio.

Sion Stevaza. 18 tahun –145 tahun–. Mahasiswa tahun pertama jurusan Ekonomi Makro. Vampire terkuat dari Vampire Pasif.

 “Kriiiing kriiiiing kriiiiiing!”

“Aaaaah berisik!” Teriak Ify.

“Kriiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing!”  Tak ayal suara jam beker di sebelah kirinya membuat Ify terbangun. Dia meraih jam beker itu dan mematikannya. Setelah hening sesaat, Ify membuka mata dan melihat jam di depannya, 08.06 WIB. Alarmnya diganti seseorang.

“Ray!” teriaknya.

“Apa?” Ray berdiri di depan pintu kamar Ify.

Raynald Krisnadinata, 15 tahun. Kelas 1 SMA. Adik dari Gabriel. Pintar beladiri dan main musik. Ray sangat menyayangi Gabriel walau Gabriel tak pernah menunjukkan sayang kepadanya.

“Siapa yang ganti alarm gue. Perasaan gue pasang jam 4 pagi, kenapa ini jam 8?”

Ray mengangkat bahunya, “Mandi dulu sono. Ray tunggu di ruang makan.”

Ify berjalan ke kamar mandi. Dibuka baju tidurnya dan dipandangi wajahnya di kaca. Tiba-tiba terlintas dalam ingatannya tentang kejadian tadi malam. Dengan segera dia meneliti bahu kirinya, bersih tak ada luka apapun.

“Apa cuma mimpi?” tanyanya kepada bayangannya di cermin.

Dua puluh menit kemudian, Ify sudah melenggang keluar dari kamarnya.

“Selamat pa……gi.” Langkahnya terhenti sebelum sempat mendekati meja makan. Ia menatap Gabriel yang tengah duduk menikmati sarapannya.

“Kenapa?” tanya Ray. Gabriel menoleh dan menatap Ify. Sejenak kemudian, ia berdiri dan berjalan ke arahnya.

“Diam dan makanlah!” Katanya sambil berlalu.

Ify mencium bau darah di tubuh Gabriel. Bukan hanya setitik, tapi seluruh tubuhnya.
Hampir seperti dia baru saja membunuh puluhan orang.

Ify duduk dan mengoles sehelai roti dengan selai kacang. Pikirannya masih tentang Gabriel. Dia bertanya-tanya apa Killer Syndrome nya muncul.

“Kak! Kak Ify!” teriakan Ray menyadarkan Ify dari lamunannya.

“Aaah ya.” Ify menatap Ray yang duduk di depannya.

“Besok ada pertemuan wali murid, Kak Ify datang ya?” pinta Ray.

Ify mengambil selai blueberry dan mengoleskannya di roti lain, “Kak Iyel nggak mau dateng?”

Ray menggeleng, “Sepertinya dia lagi bad mood sejak pulang tadi.”

Ify menyatukan dua helai roti berselai kacang dan blueberry itu sambil menatap heran Ray, “Dia baru pulang tadi?”

Ray meneguk susunya dan mengangguk, “Dia pergi dari tadi malam setelah Kak Rio pulang.”

Ify berhenti mengunyah rotinya dan bertanya, “Rio kesini?”

“Heem, Kak Rio nganter Kak Ify pulang setelah Kak Ify ditabrak orang.” Kata Ray sambil beranjak dari kursinya.

“Ditabrak?” tanya Ify.

Ray kembali duduk di depannya, “Iya kakakku yang cantik. Tadi malem Kak Ify pulang dianter Kak Rio dengan berlumuran darah. Kak Rio bilang Kak Ify jadi korban tabrak lari, untungnya darah itu bukan darah Kak Ify. Kak Ify cuma pingsan gara-gara shock. Puas?”
Mata Ify terbelalak mendengar penuturan Ray. Dia benar-benar bingung apa yang terjadi.

“Ray mau latihan band. Daa.” Ray mengambil ranselnya dan berjalan ke luar rumah.

Ify masih terpaku di meja makan dengan segala pertanyaan. Dia meletakkan roti di tangannya dan membuka bajunya. Bahunya baik-baik saja.

“Oh ya!” Suara Ray mengagetkannya. Ify menoleh dan mendapati kepala Ray menyembul dari balik pintu.

“Jangan menyembunyikan payudaramu dengan membalutnya, itu bisa mengganggu pernapasanmu.” Kata Ray sambil mengedipkan matanya.

Refleks Ify menatap dadanya dan bergidik ngeri, “Ray!!!!!

Rio membuka mata dan mendapati dirinya tengah berbaring di apartmentnya. Dia bangun dan duduk di tempat tidurnya. Kepalanya masih terasa berputar. Dia berjalan ke luar kamar, dan mendapati ada Sivia tengah duduk sambil membaca majalah di ruang tamu.

“Loe disini.” Sapa Rio. Sivia menoleh dan tersenyum.

“Udah baikan?”

Rio menuruni tangga menuju ruang tamu, “Lebih baik.”

“Jangan keluyuran tanpa sepengetahuan gue.” Kata Sivia tanpa melepaskan pandangannya dari majalah di depannya.

“Vi, gue bukan anak kecil lagi.” Rio duduk di samping Sivia.

“Jangan lakukan hal itu lagi.” Kata Sivia lagi. Kali ini Rio hanya terdiam.

“Dia hampir mati.” Kata Rio kemudian.

“Itu bukan urusan kita.” Sahut Sivia.

“Maaf tapi itu jadi urusan gue kalau menyangkut nyawa Ify.” Rio sedikit meninggikan nada suaranya, membuat Sivia berhenti dari kegiatannya dan memandangi Rio.

Sivia meletakkan majalahnya dan, “Plak!” sebuah tamparan melayang ke pipi Rio.

Rio memegang pipinya dan menatap Sivia yang kini tengah berkaca-kaca.

“Tugas gue nglindungi loe. Loe adalah harapan bangsa vampire Yo. Kalau loe melemah, nggak ada yang bisa pulihin loe. You’re our King! You must know it!

Sivia berdiri dan menghapus air matanya, “Walau rasanya menjijikkan, gue udah bersihin darah Ify dari darah loe. Walaupun gue nggak yakin nggak ada yang tertinggal.”

Sivia berjalan keluar, “Mulai sekarang, Elite Knight akan menjagamu.

Fukakute atsui itoshisa. Au tabi ni tsumoru no. Shiroi hane no youni …..” Dendangnya di dalam mobil sembari menunggu lampu hijau menyala.

“Tok tok tok!” Kaca jendela mobilnya di ketuk oleh seorang penjaja koran.

“Koran mbak?” tawarnya.

“Satu pak. Sekalian majalah ini juga.” Kata Ify. Penjaja koran itu menyerahkannya 1 eksemplar koran dan 1 majalah kepadanya.

“Ini.” Ify mengulurkan 1 lembar 50ribuan.

“Kembaliannya mbak.” Katanya.

“Ambil aja Pak.” Kata Ify sambil tersenyum.

“Terimakasih mbak.”

“Sama-sama Pak.” Ia menutup jendela mobilnya dan melajukan kembali mobilnya.

“Silakan langsung masuk saja mbak, soalnya nggak antri.” Kata seorang laki-laki dari luar jendela mobilnya. Ify mengangguk. Diambilnya majalah yang baru saja dia beli dan membaca sembari menunggu mobilnya dicuci.

“Alliando dan Prilly mengaku masih berteman.” Katanya sambil membaca berita di majalah.

“Aiiissh, udah basi. Semua orang juga tau keles.” Komentarnya.

Dia meletakkan majalah itu dan mengambil koran di sampingnya.

“Ribet baca koran di mobil.” Katanya sembari membuka lembaran koran tersebut.

Semua masih sama, hingga sebuah berita berhasil mencuri perhatiannya, “Calon Presiden beserta puluhan bodyguard ditemukan meninggal secara menggenaskan di kediamannya.”

Deg. Jantungnya serasa berhenti. Semakin banyak pertanyaan di kepalanya. Ify ambil ponselnya, dan menelpon seseorang.

“Hallo.”

“Kita perlu bicara. Gue tunggu di Jewel Park.” Kata Ify.

“Oke.”

20 menit kemudian, mobil Ify telah selesai dicuci. Begitu keluar dari mesin pencuci mobil, dia langsung tancap gas ke Jewel Park.

Ify memarkirkan mobilnya di pelataran parkir Jewel Park. Dengan berjalan setengah berlari dia menuju ke dalam area taman. Di dekat air mancur sebagai pusat taman, terlihat Gabriel tengah berjongkok dan mengelus manja seorang gadis kecil di depannya.

“Kau mengerti?” tanya Gabriel dengan lembut.

“Heem.” Gadis kecil di depannya mengangguk.

“Sekarang kembalilah ke teman-temanmu dan minta maaf.” Katanya sambil tersenyum. Gadis kecil itu mengecup pipi Gabriel dan berlari menjauh.

“Bisakah loe tunjukin sifat itu ke gue dan Ray?” tanya Ify kemudian.

Gabriel menoleh dan berdiri saat melihat Ify ada di belakangnya.

“Loe tau itu nggak mungkin.” Katanya sambil duduk di pinggiran kolam. Ify mengikutinya dan duduk di samping Gabriel.

“Gue yakin loe bisa mengendalikannya. Gabriel yang gue kenal bisa mengendalikan diri.” Gabriel memandang Ify dengan lekat.

“Gue nggak mau kejadian itu terulang lagi.” Katanya sambil menerawang jauh ke depan.

“Gue bisa jaga diri, meskipun loe yang gue hadapi.”

“Begini lebih baik. Ini keputusan gue.”

Mereka terdiam sesaat, sampai Gabriel mulai bertanya, “Apa yang mau loe bicarain?”

“Jangan ikut campur dengan kerjaan gue.” Gabriel menatap Ify.

“Lebih baik gue mati daripada loe harus bunuh orang lain.”

“Kalaupun gue nggak punya Killer Syndrome, gue tetep nglakuin ini.” Gabriel berdiri dan berjalan menjauh.

“Kak Iyel! Kak Iyel! Gabriel! Gabriel kembali!!!” teriak Ify.

“Isssh!” Umpatnya sepanjang perjalanan menuju ke tempat parkir. Ify masuk ke mobil dan mulai melamunkan semua hal yang terjadi.

Matahari sudah terbenam, Rio keluar dari apartmentnya dan mencari keberadaan Ify. Ia menemukan Ify tengah melamun di dalam mobilnya.

“Drrrt drrrt drrrt!” ponsel Ify bergetar. Ify mengambil dan melihat siapa yang menelpon.

“Hallo Yo.”

“Loe nggak pengap di dalam mobil mulu?” tanya Rio.

“Hah?!” Ify mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rio.

“Cepet keluar sebelum loe sesak napas. Apalagi dengan balutan tebel di dada loe.” Refleks Ify menutup dadanya dengan tangannya.

“Mesum!” umpatnya.

“Hahaha. Maaf gue nggak sengaja.”

“Hiya Rio!! Diam atau gue sumpel mulut loe pakai ban mobil!” teriak Ify.

“Iye iye. Cepet keluar!” suruh Rio.

Ify terdiam dan membuka bajunya. Dia melepas balutan yang membalut dadanya. Setelah selesai, dia keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Rio yang tengah melambaikan tangannya.

“Loe dari mana?” tanya Rio ketika Ify sampai di hadapannya.

“Cuci mobil, terus jalan sama Kak Iyel.”

“Loe baik-baik aja kan?” tanyanya.

“Aaah ya gue mau tanya.” Kata Ify. Rio menatapnya.

“Sebenernya apa yang terjadi tadi malam?”

“Tadi malam?” Ify mengangguk.

“Oooh yang gue nganter loe pulang?” tanya Rio memastikan. Sekali lagi Ify mengangguk.

“Ray nggak cerita?”

“Cerita. Tapi ada yang mau gue tanyakan ke loe.”

“Apa?” Ify terdiam sesaat.

“Gimana loe bisa nganter gue pulang? Perasaan kita nggak ketemu.” Rio berpikir sejenak mendengar pertanyaan Ify.

“Kemarin pas gue mau pulang, di jalan deket rumah gue banyak orang lagi berkerumun. Terus gue mendekat dan gue denger ada tabrak lari. Pas gue liat ternyata itu loe. Ya langsung gue bawa.” Jelas Rio.

Ify terlihat belum puas dengan jawaban itu. “Apa gue terluka?”

Rio terdiam, “Seperti yang loe liat, nggak ada luka yang berarti.”

“Loe yakin itu nggak ada satupun?” Rio mengernyitkan alisnya.

“Heem, udah gue cek, tapi nggak ada luka apapun.”

“Cek?” Ify agak menjauh dari Rio.

“Gu-gue cuma memastikan. Nggak niat mau liat.” Jelas Rio.

Ify memasang bibir manyunnya.

“Aiiiish, jeleknya.” Rio mencubit bibir manyun Ify.

Ify tersentak saat tangan Rio mencubit bibirnya. Dia merasakan tangan Rio hangat. Dia memegang tangan Rio untuk memastikan, dan itu benar-benar hangat. Ify menatap Rio. Disentuhnya kening Rio dan membandingkan dengan keningnya sendiri.

“Ini normal tapi aneh.”

Rio yang sedari tadi diam, tiba-tiba melangkah ke belakang.

“Aaah maaf. Apa gue bertindak aneh?” tanya Ify melihat gerakan mendadak Rio.

Rio mengangguk sambil bergidik ngeri. “Pertama, loe megang tangan gue. Kedua, loe natap gue. Ketiga, loe megang kening gue. Dan keempat, loe nglepas balutannya.” Tunjuk Rio. Ify mengikuti arah dimana telunjuk Rio mengarah. Spontan dia membalikkan badan dan menutupi dadanya.

“Dasar mesum!” umpatnya.

Ify membalikkan badannya kembali, “Biasanya tangan loe dingin banget, hampir sedingin es mungkin. Tapi sekarang kok hangat sih. Loe sakit?” Dengan cepat Rio menggeleng.

“Mungkin cuma perasaan gue aja.” Kata Ify.

Tiba-tiba Rio merasakan keberadaan beberapa vampire disekitarnya. Ia bisa merasakan ada Alvin dan Zeze.

“Zeze?” Rio kaget dengan keberadaan Zeze yang Rio tahu sedang berada di Swiss.

Tiba-tiba dia teringat kata Sivia tentang Elite Knight yang akan menjaganya.

Tak lama, beberapa hawa pemburu vampire mendekat. Rio memejamkan mata. Ada Patton, Bagas dan Chelsea, Tiga Elite Werewolf. Rio tahu kalau dua kubu menemukannya sedang bersama Ify. Maka dia tak mungkin bertemu dengan Ify lagi.

Rio memegang tangan Ify dan menariknya ke mobil Rio. Tak lama kemudian, mereka sudah berjalan menyusuri jalanan yang sepi karena malam. Beberapa menit kemudian, Rio memarkir mobilnya di sebuah kawasan Diamond Palace, sebuah apartment mewah.

“Ngapain kita disini?” tanyanya.

“Apartment gue.”

“Eeeh? Loe tinggal disini?” tanya Ify tak percaya.

Rio turun dan mengunci mobilnya. Ify mengikuti langkah panjang Rio dari belakang. Rio lebih tinggi 20cm darinya. Rio lebih kurus darinya, tapi tubuhnya benar-benar atletis. 
Ototnya padat dan terlatih. Wow. Satu kata yang bisa Ify pikirkan.

Tak satu katapun keluar dari mulut mereka selama perjalanan dari Basement hingga lantai 10. Ify mengikuti Rio keluar dari lift dan berjalan di koridor. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan dua orang laki-laki berpakaian hitam. Dua orang yang Ify kenal dengan baik. Ify berjalan mendekati Rio dan menggenggam baju belakangnya. Rio menatap Ify lalu melanjutkan perjalanannya.

Setelah dua orang tadi berlalu, Rio menyeret Ify agar dia berjalan di depannya. Rio berhenti di depan pintu apartment 1004. Ia memasukkan password dan membukakan pintu untuk Ify.

“Masuklah! Gue ada urusan sebentar! Apapun yang terjadi, jangan buka pintu!” kata Rio. Rio menutup pintu dan berlari keluar. Ify melepas sepatunya dan berjalan ke dalam.

“Dia disini.” Kata Ify lirih. Rasa takut terpancar jelas dimatanya, tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai membahasi tubuhnya. Ify duduk di ruang tamu dan menenangkan diri.

Beberapa menit kemudian, Ify mulai tenang dan mengamati apartment Rio. Apartment mewah sekelas apartment milik Do Min Joo dalam drama korea “My Love From Another Star”. Sebuah apartment dua lantai lengkap dengan dapur, ruang makan, kamar tidur, sebuah taman kecil dan sebuah ruang kerja. Ify mulai berkhayal bahwa Rio adalah alien yang sudah hidup lebih dari 400 tahun.

Sebuah lemari es berhasil menggodanya. Ify baru ingat kalau dia belum makan siang ataupun makan malam. Dia membukanya dan mendapati banyak bahan makanan segar. Karena rasa laparnya sudah tidak tertahankan lagi, Ify mulai mengambil beberapa bahan makanan dan sibuk membuat pasta di dapur Rio.

Rio menyusuri jalanan sepi di belakang apartmentnya setelah meninggalkan Ify di sana. Rasa takut Ify saat berjalan di koridor membuat volume darahnya meningkat. Kakinya tak bisa menopangnya dengan tegak. Rasanya darah akan segera keluar dari mulut atau hidungnya.

“Gue butuh mangsa.” Rio melompat dan berdiri di atas sebuah pohon. Melihat ke kanan dan kiri mencari orang yang sedang ketakutan.

“Dapat.” Dia melesat turun dari pohon dan berlari.

Di tengah perjalanan Rio berhenti. Tubuhnya tak bisa lagi mendukung untuk berlari. Kepalanya pusing dan perutnya mulai mual. Tak sanggup lagi berdiri, dia terjatuh. Rio berusaha bangkit, namun tiba-tiba darah keluar dari hidungnya. Dengan segera ia menutup hidungnya dan dengan tenaga terakhirnya, dia memanggil Sivia.

“Aaarrrrgggh!” rasa sakit tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Nona, ini data yang Anda minta.” Sivia mengambil amplop coklat di depannya.

Dia membuka amplop itu dan membaca isinya. Itu adalah informasi tentang sebuah mafia bernama “Werewolf”. Nama itu mengingatkan pada musuh abadi bangsa vampire, manusia serigala.

Werewolf juga bisa disebut sebagai musuh bangsa vampire karena itu adalah organisasi pemburu vampire. Sivia hanya mempunyai lima nama Elite Werewolf, Cakka, Shilla, Patton, Bagas dan Chelsea. Hanya mereka berlima yang pernah berhadapan langsung dengannya. Hanya itu informasi yang bisa Sivia dapat. Werewolf terkenal dengan kerahasiaan informasi internal mereka. Bahkan teknologi vampire tak bisa menembusnya.

“Huft!” Sivia tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya.

“Nggak ada kemajuan.” Sivia berdiri dan berjalan ke tempat tidur. Dia menghempaskan badannya dan membenamkan wajahnya ke bawah bantal.

“Sivia!” Suara Rio mengagetkannya. Sivia segera berlari ke balkon dan mencari keberadaan Rio. Ia mencium bau darah Rio.

“Sion!” Sivia memanggil Sion dan pergi mencari Rio.

“Ting tong!” Bel pintu berbunyi sesaat setelah Ify selesai menata meja makan. Dia melepaskan celemeknya dan berlarian ke pintu.

“Loe lama banget, dari……..ma……na” Ify terpaku melihat Cakka berdiri di depannya. 
Seketika Ify teringat pesan Rio untuk tidak membukakan pintu. Harusnya dia tidak membuka pintu itu.

Ify berjalan mundur dengan gemetar,”Ba-ba-bagaimana bisa?”

“Ka-kak!” Ify jatuh terduduk. Cakka masih berdiri tanpa gerakan. Dia hanya menatap Ify. Tatapan yang berhasil membuat Ify bergetar tanpa energi.

Cakka mendekat dan berlutut di depan Ify. Sejurus kemudian, ia menarik tangan Ify dengan paksa dan menyeretnya. Membawanya menaiki lift dan masuk ke sebuah apartment, melemparkannya ke tempat tidur.

“Bagaimana loe masih hidup?” Kata pertama yang diucapkannya berhasil membuat Ify bingung.

“A-apa maksudnya?”

Cakka berdiri di depan Ify dan mendorongnya ke belakang hingga Ify dalam posisi terlentang di tempat tidur dan Cakka berada di atasnya.

“Gue yakin loe tertembak tepat di jantung loe.”

“A-apa maksud kakak? Aku sama sekali nggak ngerti.”

Cakka mendekatkan wajahnya ke arah Ify. Refleks Ify memejamkan mata dan memalingkan wajahnya.

“Lukamu baik-baik saja?” nada bicara Cakka berubah melembut.

Tangan Cakka mulai meraba kancing baju Ify. Dengan sigap Ify menghentikan gerakan tangan Cakka dan menatap mata Cakka, “Gue baik-baik saja.”

Dihempaskannya tangan Ify dan berdiri berjalan menjauh.

Ify berdiri dan mengikutinya, “Kakak.” Katanya pelan.

“Boss!” katanya.

“Boss.” Kata Ify pasrah.

Cakka Fiotama, 21 tahun. Kakak kandung Ify. Pemimpin mafia “Werewolf” sekaligus boss Ify. Cakka sama sekali tak menganggap Ify sebagai adiknya, lebih seperti bawahan atau perempuan mainannya. Werewolf adalah organisasi yang berisi para pemburu vampire, hanya Ify yang tidak mengetahui fakta ini. Cakka mempertahankan Ify di Werewolf adalah untuk membunuhnya. Tak ada yang tahu apa alasan Cakka ingin membunuh Ify. Hanya Cakka yang mengetahui kebenarannya.

“Lain kali lakukan dengan benar, walau nyawa taruhannya.” Cakka berjalan keluar. Setelah keadaan hening, Ify jatuh terduduk dan menangis.

“Rio!” teriak Sivia saat melihat Rio sudah terkapar di tanah.

“Alvin, Zeze datanglah!” batin Sivia.

Sivia duduk di samping Rio dan mengangkat kepala Rio kepangkuannya. Sivia mengeluarkan taringnya dan menggigit Rio.

“Arrrgggh!” Bisa ia dengar teriakan Rio tepat di telinganya. Sedikit demi sedikit Sivia mulai meminum darahnya.

Beberapa menit kemudian, Sivia melepaskan gigitannya dan membersihkan mulutnya, 

“Sudah lebih baik?”

Rio tersenyum, “Sedikit.”

Alvin dan Zeze tiba. Mereka terkejut dengan apa yang terjadi dengan Rio.

“Gue udah nggak bisa lebih dari ini Ze.” Sivia mulai meneteskan air matanya. Secepat kilat, Sion dan Alvin pergi untuk mencari Vampire Kanibal lain. Zeze duduk dan menenangkan Sivia.

“Aaarrrgghh!” Sekali lagi Rio berteriak.

“Ify! Gue mau Ify!” kata Rio lirih. Sivia terkejut. Sivia tahu selama ini Rio sama sekali tak tertarik dengan Ify. Justru ketakutan Ify lah yang menyebabkan darahnya meningkat. Jika Sivia membiarkan Rio menemui Ify, sudah pasti Ify akan mati karena hasrat Rio tidak akan bisa terpenuhi dan dia akan terus memberikan darahnya ke Ify.

Sivia menatap Rio dan mendapati mata Rio berubah merah. Ini bukan Rio. Sivia memeluk Rio dengan erat, “Jangan Yo! Jangan Ify!”

“Ify!” kata Rio lagi. Sivia semakin mempererat pelukannya untuk menghentikan pergerakan Rio, hingga…..

“Aarrrgggh!” Rio berteriak seiring dengan darah segar mengalir dari hidung, mulut, mata dan telinganya. Tak lama kemudian, darah juga keluar dari pori-pori tubuhnya. Kemeja putihnya kini berubah warna menjadi merah. Sivia hanya bisa memeluk dan menangis mengiringi teriakan Rio.

Alvin datang dengan Dayat, Deva dan Angel di sampingnya. Melihat apa yang terjadi pada Rio, mereka tahu kalau mereka terlambat.

Lima menit berlalu, teriakan Rio tak lagi terdengar. Dia mulai tenang dalam pelukan Sivia. Sivia pun mulai kelelahan setelah menggunakan seluruh tenaganya. Dia mengendorkan pelukannya dan menidurkan Rio.

Zeze mengiris pergelangan tangannya lagi dan menyodorkannya ke Sivia. Dia menggigit tangan Zeze dan meminum darahnya.

“Jangan dekati Ify Yo. Dia bisa bawa loe ke kematian abadi.” Rio hanya terdiam.

“Biar gue yang ambil baju.” Sion menawarkan diri.

“Jangan ke apartment. Ada Ify disana.” Sion mengangguk dan beranjak pergi.

Sunyi dan senyap. Hanya ada gonggongan anjing terdengar dari kejauhan. Rio masih bisa merasakan taring dingin Sivia di lehernya. Dia masih ingat bagaimana dia sangat menginginkan Ify tadi. Alvin, Zeze dan Sivia hanya diam memandangi Rio yang masih terbaring. Merasa dirinya dipandangi, dia duduk dan menatap ketiganya.

“Maaf merepotkan kalian.”

It’s okay. That’s Rio we know.” Kata Alvin.

“Meski berat, it’s our duty.” Kata Zeze.

“Lagian loe kayak gini juga karena kelalaian kita.” Sivia membuka suara.

Sion datang dan bergabung dengan mereka berempat, membahas adanya Noble Vampire. Mengumpulkan informasi dimana Dera berada setelah 50 tahun menghilang.

“Awalnya gue pikir, Via atau Zeze yang bakal mendampingi Rio. Makanya kita santai-santai tak mencari keberadaan Dera.” Sion mengeluarkan pendapatnya.

“Sekarang kita harus mencari keberadaan Dera dan menjaga Rio.” kata Alvin.

“Gue rasa kita bisa berbagi tugas. Sion dan Alvin bisa mencari Dera. Penglihatan Sion dan 
kecepatan Alvin bisa menjadi kombinasi yang bagus. Gue bakal nemenin Via di sini buat jaga Rio.” Usul Zeze diikuti anggukan dari Alvin, Sion dan Sivia.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Rio setelah selesai berganti baju dan bergabung dengan mereka berempat.

“Nggak ada.” Kata Sivia sambil mengulurkan tangan untuk menerima baju Rio yang berlumuran darah.

“Istirahatlah!” suruh Sivia. Rio mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berempat.

Ify masih terduduk di pojok apartment. Air matanya sudah kering. Tak ada lagi yang bisa diteteskan. Dia berdiri dan merapikan bajunya. Merapikan tempat tidur yang kusut karena kelakuannya dan Cakka.

Ify berjalan ke arah pintu dan sadar bahwa dia tak memakai sepatu saat diseret Cakka. Ify keluar dengan kaki telanjang dan berjalan menuju ke lift. Dipencetnya tombol 10 dan menungggu lift bergerak.

Rio kembali ke apartmentnya. Masuk dan melihat sepatu Ify tak tertata di depan pintu. Dia rapikan sepatu Ify dan berjalan masuk. Ada dua set makanan di ruang makan dan sebuah celemek menggantung di salah satu kursinya.

“Ify!” Rio mencari keberadaan Ify, tapi dia tak menemukan hawa keberadaan Ify di apartmentnya. Tiba-tiba, mata Rio berkunang-kunang dan kepalanya pusing. Samar-samar ia merasakan keberadaan Ify di depan pintu. Dengan segera, ia berlari dan membuka pintu. Ada Ify berdiri di sana.

“Ify.” Rio menghampiri Ify dan memeluknya. Ify yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya pasrah menerima pelukan Rio. Darah. Ify mencium bau darah yang sangat banyak di tubuh Rio.

Tiba-tiba badan Rio melemas dan dia terjatuh di depan Ify, “Yo! Rio! Loe kenapa? Yo bangun!”

Seorang laki-laki dan perempuan sudah berdiri di belakang Ify tanpa Ify ketahui kapan mereka datang. Mereka membawa Rio masuk dan menidurkannya di tempat tidur.

“Kalian siapa?” tanya Ify.

Perempuan di sebelah Rio berdiri dan mendekati Ify. Dia mengulurkan tangannya, “Sivia.”
Ify menerima uluran tangan Sivia, “Ify.”

“Gue Alvin.” Laki-laki yang membawa Rio masuk melambaikan tangannya ke arahnya.

Sivia mengambil handuk dan duduk di pinggir ranjang Rio. Ia mengelap keringat Rio dan membuka bajunya.

“Hei apa yang loe lakuin!” Refleks Ify berteriak hingga membuat gerakan Sivia terhenti. 
Sivia menoleh kepada Ify. Dengan tenang dia berkata, “Merawatnya, mengganti bajunya, menemaninya.”

Ify kaget mendengar jawaban frontal Sivia. Alvin mendekatinya dan tertawa, “Jangan khawatir. Sivia itu saudara kembar Rio.”

Ify menatap Alvin dan menghela napas lega, “Gue anter pulang.” Kata Alvin kemudian.

“Vin.” Sivia memanggil Alvin tanpa menghentikan kegiatannya mengelap badan Rio. Alvin menoleh.

“Jangan berbuat ceroboh!”

Alvin tersenyum, “Diusahakan.”

Alvin dan Ify keluar dari apartment Rio, meninggalkan Sivia dan Rio berdua.

“Gue tahu ini bakal terjadi.  Darah loe bukan hanya dua kali lipat. Mungkin mencapai lima kali lipat.” Sivia melepas kemeja Rio dan mengelap keringat di tubuhnya.

“Dan ini terjadi hanya karena Ify. Siapa sebenarnya dia?”

Ify mengikuti langkah Alvin. Alvin 15cm lebih tinggi darinya. Tubuhnya lebih berisi dari tubuh Rio. Kulitnya putih bersih. Wajahnya oriental dan menawan. Sivia, saudara kembar Rio yang cantik dan manis, kulitnya langsat. Rambutnya lurus sepinggang. Tingginya tak lebih tinggi darinya tapi dia lebih chubby darinya. Hari ini Ify sudah dibuat ternganga 
dengan apartment Rio dan orang-orang di sekitar Rio.

Ify duduk di kursi penumpang sementara Alvin tengah menyetir. Ify sedang mengagumi mobil yang ditumpanginya. Sama mewahnya dengan mobil Rio.

“Loe punya bau yang sama dengan Rio.” Celoteh Alvin tiba-tiba.

“Bagaimana baunya?” Ify sedikit tertarik saat Alvin berbicara tentang bau disaat penciumannya tajam jika berhubungan dengan darah.

“Darah.” Jawabnya singkat. Ify menyadari bahwa mereka berpikiran sama tentang darah.

“Mungkin karena tadi gue meluk Rio jadi bau Rio tertempel di badan gue.” Alvin tersenyum.

“Karena itu juga gue nggak bisa nyentuh loe.” Ify menatap Alvin dengan heran sedangkan Alvin hanya tersenyum.

Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Ify, “Ini rumah loe kan?”

Ify mengangguk, “Apa Rio akan baik-baik saja?”

“Ya, dia…..hanya kecapekan.” Jawab Alvin. Ify mengangguk dan menatap Alvin.

“Loe nggak turun?” tanya Alvin kemudian.

“Bisa loe anter gue ke Jewel Park.” Pinta Ify.

“Hah? Buat apa?”

“Gue baru inget kalau mobil gue masih terparkir di sana.” Jawab Ify santai.
Alvin menggelengkan kepalanya sambil berdecak dan mulai melajukan mobilnya, “Thanks Vin.”

“Apa mobil loe?” tanya Alvin sesampainya mereka di pelataran parkir Jewel Park.

“Jaguar.” Ify mengamati keadaan sekitar dan hanya kegelapan yang ia temui.

“Aah mungkinkah itu? Jaguar biru metalic?” tanya Alvin sambil menunjuk ke suatu tempat.

“Ya.” Jawab Ify mengikuti arah yang ditunjuk Alvin. Namun hanya hitam pekat yang terlihat. Tak ada siluet yang menunjukkan ada mobil di sana. Ify menatap Alvin dengan kagum. Penglihatannya sama hebatnya dengan Rio yang bisa menemukannya dari jarak yang jauh.

“Sini biar gue yang ambil. Kayaknya loe parkir terlalu mepet.” Tawarnya. Ify menyerahkan kunci mobilnya.

“Aiiiisssh, karena Rio sudah menandai darahnya, gue nggak bisa nyicipin.” Gerutu Alvin sepanjang perjalanan menuju ke mobil Ify.

Alvin masuk ke mobil Ify dan menyalakan lampu. Dia meoleh ke belakang untuk mencari cara keluar dari barisan parkir. Tanpa sengaja dilihatnya sebuah tas di kursi penumpang. Alvin mencium ada bau darah keluar dari sana. Karena penasaran, dia mengambil tas itu dan membukanya. Ada pistol, granat, beberapa alat pelacak dan jaket berbau darah.
Alvin mengambil jaket itu dan mencium darah itu, “Bukannya ini darah Ify? Rasanya gue kenal sama bau ini.” Alvin memejamkan matanya dan mulai mengingat.

“Aaaah gue lupa dimana. Rasanya udah lama banget.” Alvin mengamati jaket itu dan meihat sebuah lubang di bagian depan jaket itu. Dia memasangkan jaket itu di depan badannya untuk mencocokkannya. Tepat di jantungnya. Alvin turun dan melemparkan kunci mobil Ify, “Hati-hati di jalan.

Ify masuk ke mobilnya dan melihat jaket merahnya ada di kursi sampingnya. Dia menoleh ke belakang dan tasnya sudah dibongkar.

“Alvin.” Gerutu Ify. Dia merapikan tasnya dan mengambil jaket di sampingnya. Gerakannya terhenti saat melihat jaket kesayangannya berlubang. Dia mengamati lubang itu dan mendapati bercak darah di sana. Ada dua lubang. Satu di bahu kiri dan satu lagi, tepat di jantungnya. Seketika Ify teringat kata-kata Cakka tentang tertembak di jantung.

“Itu gue?” tanya Ify pada dirinya sendiri. Ia membuka bajunya dan mengecek dada serta bahunya. Benar-benar tak ada bekas apapun. Satu hari yang penuh misteri.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar