“Nanimo mienai kurayami no naka de. Mitsuketanda chiisana hikari wo. Watashi wa ……drrrrt drrrt drrrt!” Ify mengambil ponsel yang bergetar mengusik nyanyiannya. Dia menghela napas saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya, “Kak Iyel”.
“Aissh, ngapain sih?” Dengan malas Ify menggeser tombol hijau di layar dan mendekatkannya ke telinga.
“Ya?” Terlihat dia melembutkan nada suaranya meski Gabriel bukan orang yang diharapkan menelponnya.
“Dimana?” tanya Gabriel dengan dingin. Raut wajah Ify berubah. Dia terdiam sesaat, menenangkan dirinya.
“Bukan urusan loe!” jawab Ify tak tak kalah dinginnya.
“Pekerjaan?” tanya Gabriel. Ify terdiam menatap rumah di depannya.
“Heem.” Katanya berdehem.
“Dimana?”
“Somewhere.” Ify mengakhiri panggilannya.
Ify melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya, pukul 22.49 WIB. Dia beralih duduk di kursi belakang dan membongkar isi tasnya.
Saufika Fiotama. 19 tahun. Mahasiswi Sastra Jepang tahun kedua. Seorang anggota Elite dari sebuah jaringan mafia “Werewolf”. Kakaknya, Cakka Fiotama adalah pemimpin dari mafia itu. Tinggal bersama Gabriel dan Ray, kakak beradik yang tak bisa akur. Sifatnya lembut dan penyayang, berbanding terbalik ketika dia sedang bekerja.
Rio tengah duduk menikmati obrolan Alvin dan Sivia saat dia mendengar ponselnya berdering. Ia berdiri dan melangkah menghampiri ponselnya. Ada nama “Shilla” disana.
“Ya?” sapanya.
“Hari ini Ify ada kerjaan.” Kata Shilla. Sejenak Rio terdiam.
“Dimana?” tanyanya singkat.
“Gold Everest No. 32.” Tanpa basa-basi, Rio menutup teleponnya dan segera berlari keluar. Dia berlari secepat mungkin, mungkin itu rekor terbarunya. Tak sampai dua menit dia sudah berdiri di depan rumah Ify. Terlihat ada Ray, adik Gabriel yang sedang duduk di teras dengan laptopnya. Rio berjalan mendekat.
“Dimana Ify?” tanyanya.
Ray menoleh ke arah Rio, “Oh Kak Rio. Cari Kak Ify?”
Rio mengangguk, “Kak Ify belum pulang. Mau menunggu?”
Dia menggeleng dan berjalan ke luar. Satu menit kemudian Rio sudah duduk di batang pohon di depan rumah dengan alamat yang Shilla berikan. Ada Ify yang tengah bersiap di Jaguar miliknya yang terparkir tak jauh dari rumah itu.
Sebuah pistol FN 57, beberapa slot peluru, 1 GPS Tracker, 3 kamera mini, dan beberapa perlengkapan lainnya telah terpasang di tempatnya. Ify kembali ke kursi kemudi dan mengamati keadaan sekitar. Aman. Dipakainya jaket merah kesayangannya, rambut panjangnya digulung dan ditutupi dengan topi. Keluar dari mobil dan berjalan santai di trotoar. Rio melihat Ify keluar dari mobil. Diamatinya rumah yang menjadi tujuan Ify. Aneh. Satu kata yang terlintas di benaknya.
Ify duduk di halte bus tak jauh dari mobilnya terparkir. Diambilnya sebuah mainan kecil dengan kamera pengintai dari saku jaketnya dan melemparkannya ke sisi dalam pagar dinding di belakangnya.
“Clear!” Dia berdiri dan kembali berjalan santai. Berhenti di depan gerbang tinggi sebuah rumah. Dia mengedarkan pandangannya ke dalam. Aneh. Satu kata yang terpikir olehnya.
Rio yang merasakan hawa aneh tentang rumah di depannya, mengambil ponselnya dan menelepon Shilla.
“Loe yakin ini bukan jebakan?”
“Maksud loe?” Rio terdiam sambil terus mengamati.
“Lupakan. Mungkin cuma perasaan gue.” Diakhiri panggilannya dan mulai mendial nomor Ify.
“Drrrt drrrt drrrrt!” Ponsel Ify bergetar di tengah kesunyian. Dia mundur beberapa langkah dan membalikkan badannya. Dilihatnya layar ponselnya, “Rio” tertera di sana.
“Hallo.” Sapa Ify.
“Loe dimana Fy?” tanya Rio.
“Gue……gue di rumah. Ada apa?” Ify menjawab dengan gugup dan celingukan.
“Di rumah? Gue barusan dari rumah loe.” Kata Rio.
“Ngeeek! Gawat!” batin Ify.
“Jadi loe di mana?” tanyanya lagi. Ify terdiam membisu.
“Nanti gue telepon lagi. Daaa!” kata Ify mengakhiri teleponnya dan dimasukkan ponselnya kembali ke kantong jaketnya.
“Rio ngapain sih ke rumah segala. Ribet ni urusan.” Gerutu Ify. Rio berdiri dan memasukkan ponselnya ke kantong.
“Drrrt drrrt drrrt!” Kembali ponsel Ify dengan berisik bergetar di kantong.
“Siapa lagi sih?!” umpatnya. Seketika Ify terdiam melihat nama yang tertera di layar ponselnya, “Boss”. Dengan ragu, Ify menerima panggilan itu.
Rio melihat ada telepon lain masuk ke ponsel Ify. Raut wajah Ify terlihat ketakutan. Melihat itu, Rio melompat turun dan berlari menjauh. Melihat Ify ketakutan, darahnya mulai menumpuk.
“Hallo.”
“Sudah siap?” suaranya terdengar cemas namun menakutkan.
“Ya.”
“Lakukan dengan benar!”
“Ya.” Ify hanya membisu dan memasukkan ponselnya kembali.
Tak jauh dari tempatnya mengamati Ify, Rio menemukan seorang perempuan yang tengah duduk sambil menggigit jarinya di bangku taman. Rio merasa dia sedang takut akan sesuatu. Mangsa yang cocok, batinnya. Dia turun dan berjalan ke arah perempuan itu. Berhenti di depan perempuan itu. Perempuan itu menengadahkan kepalanya dan menatap Rio, “Ada apa ya?”
Rio hanya tersenyum dan memperlihatkan taringnya. Sedetik kemudian, taringnya sudah menembus kulit leher perempuan itu dan mulai mengalirkan darahnya.
Mario Ramadiel. 19 tahun, atau lebih tepatnya 132 tahun. Mahasiswa tahun kedua Musik Kontemporer. Seorang vampire berdarah murni dari Romania. Disebut sebagai Raja karena dia adalah vampire terkuat dari klan “Royal Vampire”. Royal Vampire lebih unggul dalam segala hal dibandingkan klan lain. Karena itulah, Royal Vampire adalah klan vampire yang terlahir untuk menjadi Raja/Ratu. Royal Vampire bukan meminum darah tapi men“transfusi”kan darah. Tidak memiliki rasa haus, tapi biasa disebut dengan “hasrat” atau keinginan. Hasratnya adalah ketakutan. Hasratnya akan terpenuhi jika mangsanya sedang merasakan ketakutan. Tapi hanya ketakutan Ify yang mempunyai efek berbeda bagi Rio. Rio sama sekali tidak tergiur saat Ify ketakutan, tapi darahnya akan meningkat jika ia melihat Ify ketakutan.
Setelah telepon dari “Boss”, Ify hanya berdiri terpaku. Setelah memastikan tak ada yang akan menelpon lagi, dia kembali berjalan menuju rumah di belakangnya. Pukul 23.14 WIB, melenceng beberapa menit dari jadwal seharusnya.
Ify memakai sarung tangan hitamnya dan mulai memanjat gerbang di depannya. Dengan beberapa pijakan, akhirnya ia sampai di sebelah dalam gerbang.
Hal aneh yang mengganggu pikirannya adalah rumah itu terlalu sepi untuk disebut sebagai rumah seorang calon presiden. Tidak ada penjaga yang berjaga di halaman, bahkan satu anjing penjaga pun tak menampakkan taringnya.
Ify berdiri mengamati situasi, rumah itu berpenghuni tapi tak berpenjaga. Bisa ia dengar sayup-sayup suara percakapan dari dalam rumah. Dia berjalan menuju ke pintu utama, sampai tiba-tiba dari dalam rumah mulai terdengar kegaduhan. Keadaan menjadi gelap karena lampu dipadamkan. Bisa terdengar beberapa langkah kaki mendekati Ify. Tanpa sadar Ify melangkah ke belakang dan menggenggam erat pistol di tangannya.
“Duaar!” Tanpa sempat menghindar, sebuah peluru berhasil bersarang di bahu kirinya.
Pistolnya terjatuh dari tangannya.
“Sial!” umpatnya. Mereka tahu cara melemahkannya. Jebakan. Satu situasi yang bisa dia pikirkan. Lari atau mati.
Ify berdiri dan berjalan beberapa langkah ke belakang. Tanpa disadarinya, beberapa pria sudah berdiri di belakangnya.
“Duuuak!” Satu tinjuan melayang di perut Ify. Dia terpental beberapa meter ke belakang. Ify merasakan itu lebih sakit dari pada tertembak peluru. Saat Ify mencoba berdiri, tanpa disangka, sebuah tendangan berhasil menghantamnya lagi.
Dalam keadaan terkapar di tanah, samar-samar dia melihat laki-laki di depannya mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke jantungnya. Rasa nyeri di badannya membuat Ify tak bisa bergerak. Beberapa detik kemudian, dia kehilangan kesadaran.
Setelah menyelesaikan perburuannya, Rio kembali ke tempatnya mengawasi Ify. Dia melihat rumah yang di datangi Ify kini gelap gulita. Rio melompat dan berdiri di atas gerbang rumah itu. Sebagai vampire, penglihatannya jauh lebih baik di malam hari.
“Duaar!” Satu peluru berhasil menembus dada Ify yang sudah tak sadarkan diri.
Mata Rio seakan hendak melompat keluar saat melihat itu. Secepat kilat Rio melompat turun dan menghampiri Ify.
“Ify!” Rio menutup luka di dada Ify dengan tangannya. Tapi darah itu tak mau berhenti. Dia menggendong Ify dan berdiri. Sedetik kemudian, Rio sudah melompat dan berlari ke mobil Ify. Beberapa orang yang sebelumnya menghajar Ify hanya terbengong melihat betapa cepatnya Rio membawa pergi Ify tanpa sempat melihat wajah Rio.
Rio mendudukkan Ify di kursi belakang. Detak jantung Ify semakin melemah. Darah mengalir dari dada dan bahunya. Tak mungkin ia membawa Ify ke rumah sakit karena itu luka tembak bukan kecelakaan.
“Apa yang harus gue lakukan?” Rio panik melihat keadaan Ify. Akhirnya dia melepas jaket Ify dan beberapa kancing bajunya.
“Gue mohon bertahanlah.” Rio meminum darah Ify. Satu hal yang belum pernah dia lakukan. Rio bisa menyembuhkan orang dengan meminum darahnya, tapi itu bisa membuatnya memproduksi darah 2 kali lipat.
Lima menit berlalu, darah Ify sudah berhenti mengalir. Lukanya pun mulai menutup. Rio bersandar dan mengusir lelahnya. Sesaat kemudian, dia melompat ke kursi kemudi dan mulai melajukan Jaguar milik Ify.
Ray menyambut Rio saat dia masuk dengan Ify di dalam gendongannya.
“A-apa yang terjadi? Kak-kak Ify kenapa?” tanya Ray panik.
“Ketabrak orang. Tapi nggak ada yang luka. Bisa tunjukkan dimana kamar Ify?” Ray mengangguk dan menuntunnya ke kamar Ify.
Rio menidurkan Ify di tempat tidurnya, “Tolong ganti baju Ify. Gue pulang dulu.”
Ray mengangguk, “Terimakasih.”
Rio melangkah keluar dari kamar Ify. Ada Gabriel di sana yang tengah memandangi Ify.
Gabriel Krisnadinata. Seseorang yang dikenal Rio sebagai senjata para Vampire Pasif, vampire yang meminum darah orang mati. Gabriel adalah seorang pengidap Killer Syndrome. Sebuah keadaan dimana dia sangat ingin membunuh orang yang dia sayang dan membunuh siapapun yang menyakiti orang yang dia sayang.
Melihat tatapan Gabriel ke Ify, Rio bisa menebak sebentar lagi dia akan berlari untuk membunuh seseorang. Benar. Gabriel sudah berlari mendahuluinya keluar dari rumah saat Rio masih berjalan melewati ruang tamu.
Rio keluar dari rumah Ify dan menutup pintu rumah itu. Kepalanya mulai berdenyut. Kondisi Rio benar-benar buruk. Dia baru saja selesai berburu dan menghisap darah Ify. Langkahnya terhenti dan ia pingsan di teras rumah Ify.
Sivia yang sadar Rio sudah tak ada di ruangan bersamanya dan Alvin mulai gusar.
Sivia Ramadiel adalah saudara kembar dari Rio. 19 tahun –129 tahun–. Mahasiswi tahun kedua jurusan Desainer. Berasal dari Klan “Knight Vampire”. Knight Vampire adalah vampire yang terlahir untuk menjadi pelindung Royal Vampire. Jika memungkinkan, seorang dari Knight Vampire bisa menjadi pendamping Royal Vampire. Ada 4 jenis Knight Vampire. Pasif, Vegetarian, Human, dan Kanibal. Sivia adalah vampire terkuat dari jenis Vampire Kanibal, vampire yang meminum darah vampire lain. Vampire Kanibal adalah vampire yang memiliki kekuatan fisik terbaik dalam Knight Vampire.
“Rio kemana?” tanyanya ke Alvin. Alvin hanya menganggkat bahunya tanda tak tahu.
Alvin Naza. Vampire berdarah murni dari Korea. 20 tahun –193 tahun–. . Dia 61 tahun lebih tua dari Rio. Mahasiswa tahun ketiga jurusan Art Konteporer. Knight Vampire dari jenis Vampire Human, vampire yang meminum darah manusia. Dia yang terkuat dari jenis itu. Vampire Human adalah vampire yang terbaik dalam kecepatan.
Sivia berdiri dan berlari keluar mencari keberadaan Rio. Dia berhasil mengikuti bau Rio sampai di perumahan Gold Everest. Namun ia tak menemukan Rio. Bau Rio juga sudah memudar dari tempat itu. Dia hanya menemukan Gabriel yang tengah memanjat gerbang sebuah rumah. Karena kelihatannya menarik, Sivia melompat dan duduk di atap rumah itu.
“Gue bunuh loe! Beraninya loe bikin Ify berdarah!” Gabriel tak bisa lagi menyembunyikan amarahnya. Dia memanjat gerbang rumah yang menjadi target Ify dan melompat masuk. Sekitar 15 laki-laki kekar mulai menoleh dan menatapnya. Gabriel mengambil sebilah pisau dari kakinya. Gabriel mencium darah Ify disini, itu membuat akal sehatnya tak lagi bekerja.
Sivia merasakan kehadiran beberapa vampire di daerah itu. Hingga salah seorang berdiri di sampingnya.
“Nona Sivia, apa yang Anda lakukan di sini?” Sivia menoleh.
Obiet Adiline, seorang Vampire Pasif, vampire yang meminum darah orang mati. Vampire Pasif adalah vampire yang terbaik dalam hal mencari lokasi dari suatu benda, orang, atau vampire lainnya.
“Oh hai Biet. Hanya sekedar lewat. Kalian sendiri?”
“Kami menunggu perjamuan makan malam.”
Sivia memandang heran Obiet, “Maksudmu ada orang mati disini?”
“Sebentar lagi. Anda lihat laki-laki yang berdiri di sana.” Obiet menunjuk ke arah laki-laki yang menurut Sivia menarik.
“Namanya Gabriel. Dia mengidap Killer Syndrome. Keadaan dimana dia bisa membunuh orang yang disayang atau orang yang melukai orang yang disayangnya. Anda akan melihat seorang pembunuh berwajah tak berdosa.” Sivia tertarik dengan cerita Obiet dan mulai mengamati Gabriel.
“Bunuh! Bunuh semua orang!” Gabriel berlari ke depan dan membabi buta dengan pisaunya. Tak peduli bagian mana yang tertusuk, bagian mana yang robek, yang Gabriel inginkan hanya kematian mereka.
Tiga puluh menit Gabriel mengamuk. Tak ada orang yang bisa melawannya lagi, Gabriel tersadar. Ia melihat badannya sudah berlumuran darah. Dia jatuh terduduk dan mengacak-acak rambutnya.
“Apa yang membuatnya seperti itu sekarang?” tanya Sivia kemudian.
“Dia melihat perempuan yang disayangnya berdarah dan pingsan setelah pulang dari rumah ini. Namanya Ify kalau tidak salah.” Sivia menatap tajam Obiet.
“Aaah ya kalau tidak salah, Tuan Muda Rio yang membawa pulang Ify.” Mendengar nama Rio dan Ify disebut, Sivia tahu kemana ia harus mencari Rio.
“Lagi. Terjadi lagi.” Gabriel menghela napas dan berdiri. Berjalan pelan keluar menuju ke taman terdekat. Hampir pukul 2 dini hari. Udara dingin menusuk sampai ke tulang.
Sepeninggalan Gabriel, beberapa vampire mulai turun dan berpesta hingga haus mereka hilang.
Sampai di taman, Gabriel menemukan sebuah kolam, tanpa basa-basi dia menceburkan diri ke kolam untuk membersihkan badan. Dinginnya udara tak mempenggaruhinya. Setelah dirasa bersih, Gabriel keluar dari kolam dan berjalan ke arah bangku taman.
Dia duduk dan menundukkan kepalanya. Merenungkan apa yang sudah dia perbuat. Puluhan orang baru saja mati di tangannya.
Sivia bergerak secepat angin. Sampai di depan rumah Ify, ia melihat tubuh Rio tergeletak di teras. Dengan segera ia menghampiri Rio dan membawanya pulang ke apartment Rio.
Sivia menidurkan Rio di tempat tidurnya. Sivia samar-samar tak mengenali bau darah Rio. Segala macam pikiran buruk menghampirinya. Ia duduk di samping Rio dan menggigit leher Rio.
Otot Sivia menegang saat ia merasakan darah yang asing dalam darah Rio. Rasanya benar-benar menjijikkan. Sama seperti saat Alvin mencoba menipunya untuk meminum segelas darah yang katanya itu darah Alvin tapi ternyata itu darah manusia.
Rio meminum darah Ify. Sivia tahu suatu saat ini akan terjadi. Air matanya menetes mengetahui ia tak bisa melindungi Rio.
Sepuluh menit berlalu, Sivia melepaskan gigitannya setelah yakin tak ada darah Ify lagi.
Darah Ify membuat Sivia tak berdaya. Bahkan untuk berdiripun tak ada energi yang tersisa. Akhirnya Sivia pingsan.
***
Jammin' Jars (Amari no I) - Sega Genesis (Mega Drive) - JtmHub
BalasHapusJammin Jars (Amari no I) · Product details 안산 출장안마 · 세종특별자치 출장안마 Additional information · Additional images 충청북도 출장샵 · Additional images 동해 출장샵 · No 김천 출장안마 photos.