Sabtu, 18 April 2015

Destined Couple -Chapter 3-

“Kriiiing Kriiiiing Kriiiing!” Kembali jam beker Ify membuat seisi rumah bising.

Ify mematikan jam beker itu dan berdiri, “Selamat pagi dunia.”

Hari ini adalah kesempatan lain untuk mengungkap misteri. Setelah semalaman bergadang memikirkan banyak kejadian, Ify langsung tertidur sesampainya di rumah.

“Selamat pagi.” Sapanya ke Gabriel dan Ray yang tengah bersiap untuk ke sekolah.

“Kak Ify, jangan lupa ada pertemuan wali murid.” Kata Ray.

Ify menatap Ray, berjalan menuju dapur. “Kak Iyel, mandi dan bersiap ke sekolah Ray!”

Ray hanya menatapnya heran sedangkan Gabriel beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamarnya. Ray berlarian menghampirinya, “Apa Kak Iyel bakal mau?”

Ify menatap Ray dan mengedipkan matanya, “Kau mau sarapan apa?”

Ray tersenyum, “Telur dan bacon.”

“Ting tong!” Ify berlari ke arah pintu dan melihat siapa yang datang. Dia membuka pintu dan menyapa orang di depannya.

“Kak Shilla!”

“Hai Fy.”

Ashilla Kawanara. 21 tahun. Sahabat Cakka sekaligus partnernya. Dikenal sebagai Lady of Arc. Shilla adalah seorang atlit panah nasional. Senjata Shilla sebagai hunter adalah panah. Satu-satunya senjata manual yang dipakai Werewolf. Shilla adalah mata-mata Ify untuk Cakka. Dia yang selalu memberinya kabar tentang keadaan Cakka ke Ify.

Ify menyeret Shilla masuk dan duduk di ruang tamu.

“Biar Ify ambilkan minum dan kue.” Ify berlari menuju dapur.

Sesaat kemudian, Ify kembali dengan dua gelas jus lemon dan 1 piring kue. Ify meletakkan bawaannya di meja dan segera duduk memeluk Shilla.

“Ify kangen banget.” Shilla tersenyum melihat tingkahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Ify  menegakkan badannya dan mengangguk, “Seperti yang Kak Shilla lihat.”

Mereka bercengkrama hingga suara perut Ify menghentikan kegiatan mereka.

“Sudah waktunya makan siang. Ify akan memasakkan sesuatu yang spesial.” Ify berdiri dan berjalan ke arah dapur.

“Ting tong!” Suara bel menghentikan langkah Ify. Dia berbalik dan berjalan menuju pintu. Ada Rio di sana, berdiri memakai jaket lengan panjang, topi dan kacamata hitamnya.

“Rio?” Ify mengernyitkan alisnya saat melihat gaya berpakaian Rio.

“Loe kesambet apaan?” tanya Ify lagi.

“Boleh gue masuk?” tanya Rio. Ify mengangguk dan memberinya jalan.

Rio masuk dan mencopot jaket, topi dan kacamatanya. Ia berjalan menuju ruang tamu dan langkahnya terhenti saat melihat orang yang telah berdiri untuk menyambutnya.

Shilla tersenyum, “Hai Yo.”

Rio hanya diam dan melanjutkan langkahnya. Duduk di kursi depan Shilla. Ada kecanggungan di sana.

“Kalian saling kenal?” tanya Ify sembari duduk kembali di samping Shilla.

“Ya kami bertemu dalam beberapa kesempatan.” Jawab Shilla.

Ify mengangguk tanda mengerti, “Baiklah silakan lanjutkan percakapan. Gue akan buatin masakan yang enak.”

“Gue ragu Rio akan memakannya seenak apapun itu.” Kata Shilla diikuti tatapan tajam dari Rio.

Ify menatap Shilla heran, kemudian beralih ke Rio, “Loe nggak bakal makan masakan gue?”

Rio ganti menatap Ify, “Gue udah makan.”

Ify memberinya tatapan tajam, Rio menghela napas, “Oke oke gue makan”
Ify tersenyum dan berlari ke dapur.

“Loe nggak pernah bilang ini jebakan buat Ify.” Rio membuka suara setelah beberapa saat Ify meninggalkan dia sendiri bersama Shilla.

“Gue juga nggak tau kalau Cakka ada di balik semua ini. Gue hanya tau, hari itu Ify ada kerjaan.” Rio mendengus.

Ify yang sudah siap dengan makanannya, berjalan ke ruang tamu membawa tiga piring sandwich di nampan.

“Gue dengar dia tertembak di jantungnya. Loe hidupin dia lagi?” Suara Shilla menghentikan langkah Ify.

“Dia belum mati.” Kata Rio terdengar.

“Jadi…..? Ja-jangan bilang loe minum darahnya?” Suara Shilla meninggi.

“Darah?” kata Ify pelan sambil terus menguping.

“Loe gila ya? Itu bisa ngebunuh loe.” Kata Shilla.

“Sebagai seorang hunter, bukannya loe harusnya seneng ada 1 vampire mati?” Pertanyaan Rio sontak membuat Ify kaget tak percaya.

“Vampire. Dia berkata vampire. Rio seorang vampire.” Batin Ify. Satu rahasia Rio terkuak.

“Akhirnya gue tahu rahasia loe Yo.” Ify tersenyum jahil.

“Karena Gabriel nggak mungkin bisa jaga Ify tanpa membunuh Cakka. Cuma loe yang bisa tanpa membunuh Cakka.” Kata Shilla.

Ify menutup mulutnya saat mendengar apa kata Shilla.

“Kalau Cakka bertindak diluar batas, gue nggak segan buat bunuh dia.”

“Prang!” nampan di tangan Ify terjatuh. Kini dia tahu kemana arah pembicaraan Rio dan Shilla. Semua teka-teki yang ia pikirkan sudah terpecahkan. Apa yang terjadi malam itu, bagaimana dia tak terluka sedikitpun dan sikap aneh Cakka kepadanya.

Rio dan Shilla berdiri saat mendengar ada yang terjatuh. Ify keluar dari persembunyiannya. “Apa sebegitu pentingnyakah gue? Kenapa loe, Kak Iyel dan Kak Cakka harus saling membunuh hanya karena gue? Kenapa kalian nggak bi…….” Belum sempat Ify menyelesaikan perkataannya, Rio melesat ke arahnya dan mencium bibir Ify.

Ify berusaha menjauhkan tubuh Rio dari hadapannya, tapi tenaganya menghilang. Wajah Rio di depannya semakin memudar dan gelap.

“A-apa yang loe lakukan?” Shilla berteriak melihat Ify tak sadarkan diri di pelukan Rio.

“Membungkam mulutnya. Pulanglah dan anggap hari ini tidak pernah terjadi.” kata Rio sambil menggendong Ify.

Rio menaiki tangga menuju ke kamar Ify, “Ini rahasia kita.” Tambahnya.

Rio menidurkan Ify di tempat tidurnya, menyelimutinya dan membelai rambutnya.

“Tanpa disuruhpun, gue akan lindungi loe. Bukan hanya dari Cakka, tapi dari semua orang, termasuk bangsa gue sendiri.” Kata Rio lirih. Ia duduk di pinggir ranjang Ify dan mendudukkan Ify.

“Anggap hari ini nggak terjadi apapun.” Rio memamerkan taringnya dan mulai menikmati leher indah Ify.

Selama beberapa saat mereka berada dalam posisi itu, hingga sebuah angin besar membuat jendela di kamar Ify terbuka. Di luar jendela itu, Alvin berdiri. Secepat kilat, dia berlari dan menyeret Rio menjauh dari Ify. Dilihatnya mata Rio mulai berubah warna.

“Cukup Yo. Loe bisa membunuhnya. Kendalikan hasratmu!” bentak Alvin.

Rio menatap Alvin dengan ganas, “Arrrghh!” terlihat Rio mulai kesakitan.

Tak lama, Sivia sudah berada di kamar Ify. Dengan segera ia mendekati Rio, memeluknya dan meminum darahnya.

Beberapa menit kemudian, Rio sudah tak sadarkan diri dalam pelukan Sivia. Sivia menidurkan Rio di sofa dan ia jatuh terduduk. Ia benar-benar kelelahan. Darah Rio tak seenak biasanya.

Dengan susah payah Sivia bangkit dan berjalan ke arah Ify. Ia mengangkat kepala Ify dan meminum darah Rio yang masuk ke darah Ify. Terlalu banyak darah Rio di tubuh Ify. Tubuh Ify sudah menunjukkan gejala penolakan. 
Keringat dingin sudah mengalir dan membasahi baju Ify. Wajahnya memucat dan daerah di sekitar matanya mulai menghitam.

“Telat sedikit, Ify bakal mati di tangan Rio.” Kata Sivia setelah menidurkan Ify. Ia terduduk dan bersandar di ranjang Ify. Menoleh dan menatap Alvin.

“Bisa loe berikan darah loe sedikit?” pinta Sivia ke Alvin.

“Eh?” Alvin berjalan menjauh.

“Darah Rio benar-benar tak enak hari ini.”

Alvin mendekat dan berjongkok di depan Sivia. Di irisnya pergelangan tangan miliknya dan meneteskan darahnya ke mulut Sivia. Terlihat Sivia sangat menikmatinya, ia memegang tangan Alvin dan mulai menggigitnya. Alvin hanya meringis kesakitan saat Sivia menggigitnya.

Setelah beberapa sedotan, Sivia melepaskan gigitannya dan membersihkan mulutnya, “Thanks.”

Alvin mengangguk dan membersihkan tangannya, “Apa seburuk itu darah Rio?”

“Hasrat Rio muncul tiba-tiba jadi tubuhnya memproduksi darah secara asal-asalan.”

“Dia memberi Ify darahnya tanpa ada hasrat? Buat apa?” Alvin tak habis pikir.

“Menghapus ingatan.” Sivia menatap Rio yang tengah tertidur di sofa.

Sivia bangkit dan berjalan ke arah jendela, “Bantu gue bawa pulang Rio.”

Pagi datang, seberkas cahaya masuk ke kamar Ify dan menyentuh wajahnya. Dengan berat, ia membuka matanya. Tubuhnya berkeringat dan kepalanya pusing. Ia melihat Ray berbaring di sebelah kirinya. Dia tersenyum dan menyentuh puncak kepala Ray.

Ray membuka matanya dan melihat Ify sedang tersenyum. Seketika ia melompat dan duduk di samping Ify.

“Kak Ify baik-baik saja?” tanya Ray cemas. Ify mengangguk.

Ray menyentuh kening Ify dan membandingkannya dengan keningnya, 
“Apanya yang baik-baik saja?” Ify hanya bisa tersenyum.

Ray turun dari tempat tidur, “Ray buatkan sarapan buat Kak Ify. Tunggu ya.” Dia berlari keluar dan meninggalkan Ify sendiri.

Ify bangun dan duduk bersandar. Ia memegang keningnya dan merasakan panas tubuhnya. Keringatnya benar-benar banyak, baju yang dipakainya menempel di kulitnya. Terlihat jelas semua lekukan tubuhnya. Akhirnya dengan susah payah dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi.

Kepalanya yang pusing membuat keseimbangannya terganggu, ia berjalan dengan sempoyongan dan hampir terjatuh jika Gabriel tak datang dan memegang tangannya.

“Thanks.” Ify menegakkan badannya.

Gabriel menatap wajah Ify. Pucat. Dengan segera, ia mengangkat kaki Ify dan menggendongnya.

“Kak Iyel. Aku bisa jalan sendiri.” Gabriel hanya diam dan membawa Ify masuk ke kamar mandi. Di dudukkannya Ify di bathup dan menghidupkan keran air hangat. Gabriel mengambil sabun dan menuangkannya ke bathup. Ia duduk di pinggiran bathup dan memandangi Ify.

Ify hanya tertunduk memandangi air yang mengalir. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya tapi ia yakin itu sesuatu yang gawat. Ia bisa melihat kekhawatiran yang luar biasa di wajah Gabriel dan Ray.

“Apa yang terjadi?” Gabriel membuka suara. Ify beralih memandang Gabriel dan menggeleng.

“Justru itu yang ingin gue tanyakan. Apa yang terjadi?” tanya Ify. Gantian Gabriel yang memandanginya.

“Gue nggak yakin. Yang gue tau, saat Ray manggil loe buat makan malam, tiba-tiba dia teriak dan manggil gue. Saat gue tiba di kamar loe, keadaan loe bener-bener parah.” Gabriel menatap Ify dengan iba.

“Loe nggak inget kenapa?” Ify mencoba mengingat sesuatu, namun tak lama ia menggeleng.

“Badan loe dingin sedingin es. Detak jantungmu lemah. Kita memanggil dokter dan dokter bilang loe nggak sakit dan kita dianggap bermain dengan jadwal dokter. Hampir saja gue bunuh itu dokter kalau Ray nggak ngunciin gue di kamar loe.”

“Lalu tiba-tiba badan loe berubah jadi panas. Suhunya mungkin mencapai 40o an. Benar-benar panas.”

Ify hanya terdiam mendengar penuturan Gabriel.

“Apa yang loe lakuin kemarin?” tanya Gabriel.

Ify masih diam. Air sudah menutupi tubuhnya sampai ke bawah leher. Gabriel mematikan keran dan membuka kancing baju Ify. Ify memegang tangan Gabriel, “Gue bisa sendiri.”

“Loe bener-bener nggak ingat apapun?” tanya Gabriel lagi. Ify menggeleng. Dia benar-benar tak bisa mengingat apapun.

“Apa yang loe inget tentang kemarin?” Gabriel mengganti pertanyaannya.

“Gue rasa Rio datang.” Kata Ify kemudian.

“Rio?”

“Aaah mungkin tidak.” Kata Ify lagi.

Gabriel berdiri dan menutup tirai bathup. “Jangan terlalu dipikirkan. Kesehatanmu yang utama. Gue ada di luar kalau butuh sesuatu.”
Gabriel keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya.

Rio terbangun saat mendengar kegaduhan di luar kamarnya. Ia bangkit dan duduk di ranjangnya. Dia cukup terkejut melihat Sivia berbaring di sampingnya. Rio berdiri dan berjalan keluar. Ada Alvin dan Zeze tengah bermain game di ruang tamu Rio.

Rio turun dan duduk di belakang mereka sambil menonton mereka bermain.

“Jangan curang!” Zeze menyenggol Alvin.

I’m cheater, you know.” Kata Alvin.

“Apa menyenangkan?” Rio bertanya.

“Huaaa!” serempak Alvin dan Zeze terlonjak kaget saat Rio menanyai mereka.

“Kenapa?” Rio heran dengan tingkah mereka.

“Bisa nggak loe dateng pakai suara? Jantung gue hampir copot.” Kata Alvin.

“Copotpun nggak masalah. Loe vampire.” Kata Rio santai.

Alvin dan Zeze mendekat ke Rio, “Loe udah baikan?”

Rio mengangguk.

“Kemana Sion?” tanya Rio kemudian.

“Pergi dari semalem. Ngatur para Vampire Pasif yang sekarang makin kurang ajar.” Kata Alvin sambil memulai gamenya lagi.

“Aaah gue mau tanya.” Kata Rio.

“Apa?”

“Kenapa Sivia ada di ranjang gue?”

“Karena nggak ada kamar tidur lain.”

“Kenapa nggak pulang?” Alvin menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan Rio.

“Loe pikir gara-gara siapa Sivia kayak gitu?” Rio terdiam.

“Apa yang udah gue lakuin kali ini?” tanyanya.

“Loe nggak inget?” tanya Zeze.

“Samar-samar.” Kata Rio.

“Loe hampir aja bunuh Ify.” kata Alvin. Sontak Rio turun dari sofa dan mendekati Alvin.

“A-apa maksud loe?”

Rio menundukkan wajahnya saat Alvin selesai bercerita.

“Ya gue inget sampai gue nggigit Ify. Setelah itu, gue nggak ingat apapun.”

“Mata loe berubah jadi merah waktu itu, seakan loe bisa bunuh semua vampire yang loe temuin.”

“Sebenarnya ada apa dengan gue?”

“Devil Mode.” Sivia turun dari lantai dua menuju ruang tamu. Zeze berlari dan menuntunnya turun.

“Devil Mode?” tanya Rio.

“Keadaan dimana loe kehilangan kendali atas tubuh loe. Terjadi karena kurangnya keseimbangan. Sering terjadi di Klan Royal dan Noble karena tidak adanya salah satu dari keduanya.” Jelas Sivia.

Rio, Alvin dan Zeze menampakkan ekspresi kebingungan.

“Rio adalah Royal, kekuatannya lebih tinggi dari vampire lainnya. Dalam keadaan biasa, itu bisa diseimbangkan dengan adanya Elite Knight. Tapi saat kondisi Rio melemah, kekuatannya akan menjadi tak bisa dikendalikan. 
Karena itu dia butuh seorang Noble untuk memulihkan kondisinya agar bisa mengendalikan kekuatan itu. Dan itu yang tidak kita punya.” Sivia menjelaskan panjang lebar. Rio, Alvin dan Zeze mengangguk tanda mengerti.

“Tapi ada satu hal yang ganjil disini.” Kata Sivia kemudian. Berhasil membuat Rio dan lainnya penasaran.

“Secara harfiah, darah Rio akan meningkat dua kali lipat jika ia meminum darah orang kan?” Rio dan lainnya mengangguk.

“Tapi kali ini, darah Rio bisa mencapai 5-7 kali lipat.”

“Yang bener?” Rio sendiri tak percaya.

Sivia mengangguk, “Sebenarnya, semakin banyak darah yang loe produksi, semakin kuat pula loe, jika ada Noble yang menyeimbangkannya.”

“Yang jadi pertanyaan adalah, siapa Ify hingga dia bisa membuat darah Rio meningkat pesat. Gue rasa dia bukan cuma sekedar manusia biasa.”

Mereka berempat terdiam, memikirkan hal yang mungkin sebenarmya terjadi.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar