Sabtu, 25 April 2015

Destined Couple -Chapter 4-

Cakka duduk di ruang kerjanya. Mengutak-atik laptop di depannya. Jendelanya masih bertirai tanpa ada cahaya yang masuk. Dia tak tahu itu siang atau malam. Shilla masuk membawa satu nampan berisi susu dan roti panggang. Ia meletakkan nampannya di meja kerja Cakka dan memeluk Cakka dari belakang kursinya.

“Aku membuatkanmu sarapan sayang.” kata Shilla manja. Cakka menoleh dan mencium pipi Shilla. Shilla melepaskan pelukannya dan duduk di bantalan tangan kursi Cakka.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Shilla sambil melihat layar laptop Cakka.

“Elite kita hanya tinggal ini?” Shilla menatap Cakka sambil menunjuk ke layar laptop.

“Ayah mengamuk dan membunuh beberapa elite yang menjaganya.”

Shilla memeluk Cakka erat, “Aku tahu ini pasti berat bagimu.”

Cakka terdiam. Ia menutup laptopnya dan membalas pelukan Shilla.

“Hari ini aku akan menemui Ayah.” Shilla mengangguk.

Beberapa saat mereka terdiam. Hingga Shilla memberanikan diri bicara.

“Tak maukah kau mempertimbangkan ideku? Aku yakin mereka bisa membantu.”

Cakka melepas pelukan Shilla dan berjalan keluar, “Entahlah. Sudah cukup berurusan dengan vampire.”


Ify keluar dari bathup dan membasuh dirinya. Ia telah berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi ia sama-sekali tak bisa mengingatnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

“Ada apa sebenarnya? Masak iya gue nggak ingat sih?”

“Kak Ify!” teriak Ray dari luar kamar mandi. Ify segera memakai bajunya dan berjalan keluar.

Ray tersenyum saat melihat Ify keluar. Di tanganya ada nampan berisi segelas susu dan semangkuk bubur yang masih terlihat panas.

“Bubur spesial buat Kak Ify yang cantik.” Kata Ray sambil meletakkan nampan di samping tempat tidur Ify.

Ify tersenyum dan berjalan ke tempat tidurnya, “Makasih ganteng.” Ify mengacak-acak puncak kepala Ray.

“Drrrrt drrrt drrrt!” ponsel Ify bergetar. Tangan Ify bergetar saat ia melihat siapa yang 
meneleponnya.

“Ya?” sapa Ify dengan agak ketakutan. Ray bertanya-tanya kenapa Ify tampak ketakutan. Gabriel yang sedang berjalan melewati kamar Ify, berhenti saat melihat raut wajah Ify berubah. Ia langsung tahu siapa yang meneleponnya. Disambarnya ponsel Ify.

“Ify butuh istirahat. Jangan hubungi dia dulu.” Gabriel menutup ponselnya dan memberikannya ke Ify.

“Jelaskan ke mereka keadaan loe sekarang. Jangan biarkan mereka memberimu tugas!” pinta Gabriel. Ify hanya mengangguk.


Amarah Cakka tak tertahankan saat Gabriel tiba-tiba memutuskan teleponnya. Dia memasukkan ponselnya dan menuju ke mobilnya. Shilla yang tengah mengamati Cakka dari mobilnya, segera mengikuti Cakka saat Cakka keluar dari rumahnya.

Selama hampir 2 jam Shilla mengikuti mobil Cakka, Cakka memasuki pelataran sebuah rumah. Ini markas rahasia Werewolf, tempat ayah Cakka berada. Cakka masuk dan menuju ke basement rumah itu. Shilla mengurungkan niatnya mengikuti Cakka ke basement dan memilih naik menuju ke ruang kerja Cakka.

Cakka menuruni tangga yang gelap dan lembab menuju ke basement. Hingga dia tiba di sebuah ruangan dengan seorang laki-laki duduk di sebuah kursi di ruangan itu.

“Ayah.” Laki-laki itu menoleh.

“Kau sendiri? Mana adikmu?”

“Bagaimana kabar ayah?” tanya Cakka tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.

“Aku tanya dimana adikmu?!” Ayahnya berdiri dan menggebrak meja di depannya.

“Sudah ku bunuh.” Kata Cakka. Terlihat kemarahan ayahnya sudah mencapai puncaknya.

“Siapa yang menyuruhmu membunuhnya?! Dia adalah senjata kita!” bentak ayah Cakka.

Cakka mengangkat kepalanya dan menatap ganas ayahnya, “Dia bukan senjata! Dia adikku! Dia anakmu!”

“Dia tetap senjata. Kau cukup menghancurkan segelnya Kka.” Suara ayah Cakka melembut.

“Stop perlakukan dia seperti senjatamu. Aku akan membunuhnya dan membuat dia menjadi manusia seutuhnya!” Cakka berbalik dan melangkah keluar.

“Kau tak bisa membayangkan keberuntungan Ify. Kau belum membunuhnya. Lebih tepatnya, kau belum berhasil membunuhnya.” Cakka menutup pintu dan berlalu.


Ruang kerja Cakka tak jauh beda dengan yang ada di rumahnya. Gelap, penuh dengan buku dan senjata. Shilla berkeliling ruangan itu. Hingga matanya tak sengaja melihat sebuah buku usang tergeletak di bawah sofa. Shilla berjongkok dan mengambil buku itu. Dia duduk di sofa dan membacanya.

“Dera ke-77” Shilla membaca nama yang tertulis di cover buku itu. Dibukanya lembaran pertama.

19 Mar 1965. 143. Kata yang lain, ini sudah waktunya terima takdir. Tapi mereka tak tahu seperti apa takdirku. Tidak. Aku tidak mau.

“Sepertinya ini buku diary. Buku 50 tahun yang lalu.” Batin Shilla. Dia membuka satu halaman lagi.

30 Apr 1965. Aku tak suka dia. Kasar dan seenaknya. Bagaimana mungkin dia menjadi yang pertama.

9 Jun 1965. Kata tetua, lima hari lagi saat bulan purnama, semua akan terkendali. Aku rasa tidak.

12 Jun 1965. Aku sudah tidak tahan. Dia memakai gelarnya untuk memaksaku.

13 Jun 1965. Selamat tinggal. Aku sudah menyerah. Salah kalian memilih dia sebagai pemimpin.

Shilla berhenti membaca dan menutup mulutnya, “Bunuh diri?”

Shilla membalik satu halaman lagi dan menghela napas lega.

28 Aug 1965. Ini lebih baik. Aku bebas.

Selama beberapa lembar hanya berisi pengalaman di berbagai negara, hingga di suatu halaman, sesuatu membuatnya kaget.

10 Jan 1989. Steven Fiotama. Nama yang indah. Dia mencuri perhatianku.

“Ayah Cakka.”

9 Jul 1989. Dia tahu rahasiaku. Tapi dia tidak takut.

”Rahasia?” Shilla semakin penasaran.


Cakka keluar dan masuk ke mobilnya. Saat ke luar dari pelataran, tanpa sengaja ia melihat mobil Shilla terparkir tak jauh dari gerbang.

“Kenapa dia parkir di luar? Jangan-jangan!” Cakka turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah.

“Shilla!” ia berteriak memanggil Shilla.
Cakka berlari ke ruang kerja Shilla di lantai 2, namun tak ada tanda bahwa Shilla ada di situ.
“Kemana sih? Shilla!” Cakka berlarian sepanjang koridor, hingga tiba-tiba dia teringat akan ruang kerjanya. Segera mungkin dia naik ke lantai 4 dimana ruang kerjanya berada.
۞۞۞
Shilla masih membuka buku itu dengan penasaran. Ia merasa ada sesuatu disini yang ganjil. Apa Dera ibu Cakka? Tapi siapa dia? Dia sudah mulai menulis buku dari 50 tahun yang lalu, tapi dia menikahi ayah Cakka.

30 Des 1989. Dia menerimaku apa adanya. Dia melamarku.


9 Sept 1990. Janji suci kami terikat. Ini yang aku inginkan.

18 Aug 1994. Aku berhasil melahirkannya. Dia manusia. Laki-laki yang tampan. Kami memberinya nama Cakka.

Oh my! Dia memang ibu Cakka.”

4 Okt 1995. Kesalahan terbesarku. Steven mulai terkontaminasi darahku. Ini bisa berbahaya.

6 Des 1996. Oh tidak. Dia keturunanku. Gawat jika Steven mengetahuinya. Mungkin aku bisa mengelabuinya. Seorang perempuan cantik yang juga akan jadi manusia, Saufika.

“Apa yang loe lakuin disini?” Cakka sudah berdiri di depan Shilla.

Shilla berdiri, menyembunyikan buku tadi di belakang badannya “Gue…..gue nyari loe.”

Cakka memegang tangan Shilla dan mengangkatnya, ia melihat ada buku di tangan Shilla. 
Ia mengenali buku itu. Ditatapnya Shilla. Cakka mengambil buku itu dan menghempaskan tangan Shilla.

“Siapa yang memberimu ijin membaca buku orang lain?” tatapan Cakka yang garang langsung terarah ke mata Shilla.

Shilla menunduk, “Maaf.”

Cakka memegang pundak Shilla dan menghempaskannya ke belakang hingga Shilla terjatuh di atas sofa. Cakka mengambil pistol Smith&Wesson 0,38 dari meja di samping sofa dan mengarahkannya ke kepala Shilla. Shilla hanya memejamkan matanya dan menggenggam erat baju Cakka.

“Sejauh mana yang loe baca?”

“Sa-Saufika.” Jawab Shilla gemetar. Cakka terdiam.

“A-apa dia Ify?” Shilla memberanikan diri bertanya.

Cakka meletakkan kepalanya di pundak Shilla. Dia berdiri dan duduk bersandar di sofa. 
Diletakkannya pistol yang tadi dipegangnya.

Shilla bangun dan duduk di samping Cakka. Cakka hanya memandangi buku di hadapannya dalam diam. Shilla hanya menemaninya tanpa suara.


Malam datang kembali. Baik Sivia, Rio, Alvin, Zeze atau Sion yang sudah datang bergabung tak menemukan misteri tentang Ify. Seluruh buku di Rumah Sivia tak bisa menemukan jawabannya. Alvin dan Sion sudah terkapar di lantai karena kelelahan.

“Gue nggak sanggup Vi. Buku itu sama dengan darah makhluk hidup.” Kata Sion.

Zeze dan Sivia hanya tersenyum simpul. “Itulah loe sejak dulu, paling anti sama buku.”

Alvin berdiri dan meregangkan badannya, “Gue rasa gue mau berburu dulu. Sion, ayo!”

“Ngapain ajak Sion?” tanya Zeze.

“Sekalian lanjut nyari Dera.” Jawab Alvin. Zeze mengangguk dan melambaikan tangan.

Rio masuk ke ruang kerja Sivia dengan satu tumpuk buku di tangannya, ia heran saat hanya melihat Sivia dan Zeze di situ, “Dimana Alvin dan Sion?”

“Berburu.” Jawab Sivia singkat.

“Oooh.” Rio duduk dan meneliti buku yang baru dibawanya. Tak lama, ia menghentikan kegiatannya karena merasa ada yang tak beres dengannya.

“Ada apa? Sudah dimulai?” Sivia yang melihat Rio tiba-tiba terdiam mendekatinya.

Rio menggeleng. Dan dengan segera dia berdiri, berlari ke arah jendela dan melompat.

Rio terus berlari menuju ke satu tempat. Ify. Ia merasa Ify memanggilnya.


Shilla dan Cakka masih terdiam di ruang kerja Cakka. Tak ada niatan bagi keduanya untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Bahkan malam yang sudah semakin larut tak dihiraukan mereka.

“Sayang.” Shilla memanggil Cakka.

“Heem.” Sahut Cakka.

“Dera, ibu loe?” tanya Shilla ragu-ragu.

“Heem.” Cakka berdehem.

“Dia vampire?” tanya Shilla hati-hati. Cakka menoleh dan menatap Shilla.

“Ma-maaf. Gue….gue….” Shilla serba salah.

“Ya.” Jawab Cakka singkat. Berhasil membuat Shilla kaget.

“Ja-jadi Ify?”

“Vampire. Ify vampire.” Kata Cakka.

Shilla menutup mulutnya, ia benar-benar tak pernah membayangkan hal ini.

“Ayah gue terobsesi dengan keabadian yang dimiliki ibu gue. Dia mulai meminum darahnya saat dia mengandung Ify. Itu membuatnya melemah dan tak bisa menjaga Ify dalam 
kandungannya.” Cerita Cakka.

“Ify dilahirkan sebagai vampire. Seorang Noble, kandidat Ratu.”

“Tapi dia punya jantung. Dia hidup.” Kata Shilla.

“Belum sempat Ayah mencapai keabadian, Mama memutuskan untuk mengakhiri keabadiannya. Tapi sebelum itu, Mama menyegel jiwa vampire Ify agar ia tak dimanfaatkan oleh Ayah.”

Shilla berdiri, “Tapi kau ingin membunuhnya!”

“Jika gue bisa bunuh Ify, dia bisa jadi manusia selamanya.” Jawaban Cakka telak membuat Shilla terdiam.

“Tapi gue selalu gagal. Entah tiba-tiba aura vampirenya muncul atau munculnya tokoh-tokoh seperti Gabriel yang mati-matian menjaganya.”
Shilla kembali duduk dan memeluk Cakka.


“Syukurlah loe udah baikan.” Gabriel mengelus rambut Ify. Ify tersenyum.

“Sekarang istirahatlah. Besok pasti lebih baik.” Ify mengangguk. Gabriel berdiri dan berjalan keluar.

“Selamat malam.” Sapanya.

“Selamat malam Kak.” Jawab Ify.

Ify mencoba tidur setelah Gabriel meninggalkan kamarnya. Entah ia sudah tertidur atau belum, tiba-tiba ia merasa sangat haus dan terbangun. Ia duduk dan mengambil air minum di sampingnya. Setelah meneguk habis satu gelas air putih, tenggorokannya masih terasa sangat haus. Ia menuang satu gelas lagi dan meminumnya. Namun tak ada bedanya. Tenggorokannya semaki terasa kering.

“Kenapa ini?”

Ify turun dari tempat tidur berniat mengambil minuman lain di dapur, saat ia tiba-tiba melihat siluet seseorang berdiri di luar jendela kamarnya. Ify berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya. Ia melihat ada Rio di sana.

“Rio.” Ify membuka jendela dan berjalan ke balkon.

“Hai Fy.” Rio tersenyum.

“Bagaimana loe bisa?” Ify melihat ke luar kamarnya. Menerka-nerka bagaimana Rio bisa ada di balkon kamarnya.

“Rahasia. Biar kayak di sinetron.” Canda Rio. Dia duduk di pagar balkon kamar Ify. Ify ikutan duduk di sampingnya.

Ify menatap Rio. Ada perasaan aneh yang menyerang dirinya. Ify berdiri di depan Rio. 
Tangan kanannya mulai meraba dada Rio.

Rio memegang tangan Ify untuk menghentikannya, “Loe kenapa Fy?”

Ify hanya menatap Rio. Tangan kirinya kini sudah melingkar manis di leher Rio. Ify berjinjit dan memeluk Rio.

Rio yang masih bingung dengan tingkah Ify, hanya melihat apa yang akan dilakukan Ify, sampai Rio merasakan sesuatu yang tajam dan dingin menembus kulit lehernya. Sesaat Rio tak bisa bergerak dalam pelukan Ify. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong Ify menjauh.

Terlihat Ify nampak kebingungan, “A-ada apa?”
Rio menyentuh lehernya dan mendapati luka gigit di sana.

“Nggak mungkin.” Kata Rio.

“Apa yang nggak mungkin?” Ify berjalan  mendekat.

“Ja-jangan mendekat!” Rio nampak ketakutan.

“Loe kenapa Yo?” Ify kaget melihat Rio ketakutan.

Tiba-tiba, Rio mulai merasa mual. Sudah saatnya berburu. Rio berbalik untuk pergi mencari mangsa. Tapi tangan Ify berhasil menahannya.

“Gu-gue harus pergi.” Kata Rio.

“Loe nggak mungkin lompat dari sini.” Kata Ify.

Rio melepaskan genggaman tangan Ify saat tiba-tiba rasa sakit mulai menyerangnya. Dia terjatuh dan mengerang kesakitan.

“Si-Sivia! Aaaarrrgh!” rasa sakitnya tak lagi tertahankan.

Ify duduk di depan Rio, memegang kepala Rio agar menatapnya, “Hai, my King.
Ify mencium bibir Rio sesaat dan beralih ke leher Rio. Rio bisa merasakan darahnya mengalir ke lehernya.


Sivia berdiri saat samar-samar mendengar suara Rio memanggil namanya. Dia melihat ke arah Zeze dan dia mengangguk, “Gue juga denger.”

Sivia dan Zeze segera menyusul Rio. Mereka berdiri di sebuah pohon tak jauh dari balkon Ify. Sivia terkejut dengan apa yang dia lihat. “A-apa yang terjadi Ze? Ba-bagaimana bisa Ify?”

Zeze pun tak kalah kagetnya dengan Sivia, “Gu-gue juga nggak tau Vi. I-ini benar-benar diluar dugaan gue.”

Ify melepaskan gigitannya, “Sampai berjumpa lagi, my King.

“Loe kenapa Yo?” tanya Ify kemudian.

Rio menatap Ify dan menggeleng, “Bukan apa-apa.”

Rio berdiri diikuti Ify. Tiba-tiba Ify jatuh pingsan. Dengan sigap Rio menangkap Ify yang hampir saja terjatuh.

Sivia dan Zeze melompat ke balkon kamar Ify, “Apa yang terjadi?”

Rio mengangkat tubuh Ify dan menidurkannya di tempat tidur. Menyelimuti dan membersihkan sisa darah di sudut bibir Ify.

“Apa yang terjadi Yo?” Sivia mendekati Rio. Rio menggeleng.

“Justru gue yang mau tanya ke loe? Ada apa dengan Ify?” tanya Rio.

Sivia menggela napas, “Lebih baik kita pulang dulu sekarang. Ze, panggil Alvin dan Sion.”

“Loe bisa jalan?” tanya Sivia ke Rio. Rio mengangguk.

“Lari sampai Romania juga gue bisa.” Kata Rio sambil pergi dari kamar Ify.


“Apa yang terjadi?” tanya Alvin ketika ia masuk ke ruang tamu rumah Sivia.

“Ify meminum darah Rio.” Kata Zeze.

“Eeeehh?” Serentak Sion dan Alvin memperlihatkan kekagetannya.

“Bagaimana keadaan Rio?”

“Lebih baik dari sebelumnya.” Jelas Sivia saat Rio masuk membawa satu tumpuk buku di tangannya.

“Ini semua buku yang bisa gue dapat.” Katanya.

“Buku apa itu?” tanya Sion.

“Buku tentang gue.” Kata Rio sambil membuka salah satu buku.

“Kita berpendapat ini ada hubungannya dengan status Rio sebagai King dari Royal Vampire.”


Sivia tengah berjalan sendiri di tengah hutan di tepi kota. Ia ingin berburu. Darah Rio sudah di minum Ify jadi ia harus mencari Royal Vampire lainnya.

Ia mencium bau darah. Dengan segera dia berlari dan mendapati Aren tengah mengintai seseorang dari kejauhan.

“Boleh gue ganggu kesenangan loe? Gue butuh makan.” Kata Sivia.

“Huaaa!” Aren mundur beberapa langkah.

“Nona Sivia. Anda mengagetkanku.’ Katanya.

“Kau mengincar seseorang?” Aren mengangguk.

“Boleh buat gue aja?” Aren memandang heran.

“Bagaimana dengan Tuan Rio?”

“Ada beberapa kejadian, darah Rio sudah habis.”

“Kalau begitu, ijnkan saya.” Aren berjongkok di depan Sivia.

“Jangan begitu, gue bukan lagi Kandidat Ratu.” Aren menengadahkan kepalanya. Sivia duduk memeluk Aren dan mulai meminum darahnya.

“Apa maksud Anda?” tanya Aren saat Sivia selesai menikmati darahnya.

“Suatu saat loe akan tau.” Sivia tersenyum.

“Oooh ya, siapa orang yang loe incar? Bukannya hasrat loe kasih sayang?”

Aren mengangguk, “Saya menemukan seseorang yang sedang memikirkan –mungkin– kekasihnya.”

“Dimana?”

“Di sebuah rumah, sekitar 1 km dari sini.” Sivia mengangguk.

Anyway, thanks Ren.” Aren tersenyum dan pergi meninggalkan Sivia.

Sivia yang penasaran dengan target Aren yang memiliki hasrat kasih sayang, pergi ke rumah yang ditunjuk Aren. Ia kaget melihat siapa pemilik rumah itu. Ify. Sivia melihat Gabriel tengah duduk di teras.

“Bukankah dia si alat Pasif?”

Sivia duduk di batang sebuah pohon tepat di depan rumah Ify, mengamati laki-laki yang sedang asyik dengan gadgetnya. Wajahnya yang samar-samar tersinari cahaya dari gadget berhasil menarik perhatian Sivia. Wajahnya yang terlihat polos, tak menyiratkan bahwa dia sudah membunuh banyak orang.

“Inilah pembunuh berwajah tak berdosa yang sebenarnya.” Batin Sivia.
Setelah puas memandangi Gabriel, Sivia berdiri berniat untuk pergi. Tapi ia salah berdiri dan terpeleset jatuh.

“Braaak!” Terjun bebas 6 meter baru saja di alami Sivia.

“Isssh!” Sivia mengusap tangannya yang penuh tanah.

“Loe nggak papa?” Gabriel sudah berdiri di depan Sivia mengulurkan tangannya.

Sivia berusaha menyembunyikan kekagetannya saat ia melihat Gabriel di depannya. Dia menerima uluran tangan Gabriel dan berdiri. Dibersihkannya celana jeans yang dipakainya.

“Thanks.” Katanya.

Gabriel tersenyum, “Ngapain malem-malem manjat pohon?”

“Ehh?”

“Gue liat loe dari tadi duduk di sana.” Gabriel menunjuk ke dahan pohon tempat Sivia duduk sebelum dia terjatuh.

“Gue…..gue….” Sivia tak tahu harus menjawab apa.

“Loe temen Obiet?” tanya Gabriel. Sivia menatap Gabriel tak percaya.

“Loe kenal Obiet?” tanya Sivia balik.

“Dari ekspresi loe, gue yakin loe salah satu dari mereka.” Kata Gabriel.

Sivia memanyunkan bibirnya, “Sorry ya, gue bukan salah satu dari mereka.”

Gabriel memandang Sivia heran. “Ya, gue salah satu dari mereka tapi gue beda jenis.”

“Isssh pokoknya gue bukan mereka.” Kata Sivia gusar. Gabriel akhirnya tertawa.

“Apa yang lucu?” tanya Sivia marah.

“Vampire bisa salah tingkah juga ternyata.” Sontak wajah Sivia memerah.

“Gue Gabriel. Loe?” sekali lagi Gabriel mengulurkan tangannya.

“Sivia. Sivia Ramadiel.”

***

1 komentar: